Categories
Press Release

We Are Hiring Freelance Content Writer

Categories
Diskusi

Padebooks Gandeng Baitul Mal Aceh Gelar Seminar Bagi Pengusaha Muda

Banda Aceh – Bertahan di tengah pandemi merupakan hal yang sulit bagi pelaku UMKM, terutama bagi yang belum mengenal atau memanfaatkan sosial media dengan baik untuk mempromosikan bisnisnya, sehingga kalah dengan pesaing yang mampu menjangkau lebih luas calon pelanggan.

Oleh karena itu, Padebooks menggandeng Baitul Mal Aceh menggelar seminar bisnis bertajuk “SOCMED-PRENEUR: Usaha Lancar di Tengah Pandemi” yang berlangsung Kamis (3/11) lalu, di Aula PKBI Banda Aceh.

Kegiatan ini dihadiri oleh 25 pengusaha muda pemilik bisnis online maupun offline yang terdampak pandemi COVID-19.

Hadir sebagai pembicara Muhammad Akramullah, pendiri Keyvan Islamic Finance, dan Gusti Hermawan Supma pendiri sekaligus pemilik usaha donat mini Get Latela.

Seminar ini sendiri bertujuan untuk membantu para pengusaha yang ingin memanfaatkan berbagai alat promosi di internet, terutama media sosial untuk meningkatkan usahanya. Acara berlangsung tertib dengan protokol kesehatan yang ketat.

Categories
Diskusi

Ayo Ikuti Bedah Buku “De Atjehers : Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi”

TIPD & P3M STAIN MEULABOH Selenggarakan Talk Show bedah buku dengan Tema “Tradisi Ngopi di Aceh dari Masa ke Masa & Penerbit Buku Kopi Jilid 2”. Pada Talk Show ini, Pihak TIPD & P3M STAIN MEULABOH Menggait Narasumber dari Padebooks yang salah satunya juga merupakan orang yang berpengaruh besar didalam buku ini.

Baiquni Hasbi selaku pembedah pertama adalah dosen IAIN Lhokseumawe juga salah satu pendiri padebooks merupakan mahasiswa Doktor di University of North Carolina at Chapel Hill, Jika Mendengar Namanya tentu saja beliau tidak jauh dengan yang namanya Sejarah dan Budaya terbukti dengan salah satu karya beliau yaitu “Relasi kerajaan Aceh Darussalam dan kerajaan Utsmani”

Selain itu, juga turut hadir Saiful Akmal, Ph.D sebagai pembedah kedua, beliau dikenal dengan orang yang aktif di dalam organisasi serta ramah akan diskusi juga merupakan dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Banda Aceh serta merupakan Alumni University of Frankfurt Germany.

Moderator acara Talk Show adalah Muhajir Alfairusy yang merupakan Dosen STAIN Meulaboh, juga Selaku Editor pada buku yang akan dibedah Kamis,29 Oktober 2020 melalui aplikasi Rapat Daring Zoom Meeting.

Tertarik Mengikuti Talk Show???, segera registrasi di link berikut http://bit.ly/Bedahbuku-1
atau dapat menghubungi Contact Person :

0813-6036-8686 (Irsan)

0853-5972-2480 (Dian)

0852-7573-5306 (Ikhwan)

Categories
Penulis Tamu

Fabrikasi Atau Induksi Penyakit Pada Anak

Tentang Gangguan Buatan (Factitious Disorders)

Gangguan buatan adalah suatu gangguan jiwa dimana pasien secara sengaja membuat tanda gangguan medisfisik atau psikologis dengan menunjukkan riwayat serta gejala palsu yang dimotivasi oleh faktor internal yang tujuannya semata-mata untuk mengambil peran sebagai pasien tanpa adanya dorongan dari luar, meski pun kadang mereka tidak sepenuhnya memahami motivasi mereka. (Shierly, 2014).

Pemahaman yang lebih dalam mengenai gangguan ini menunjukkan bahwa pasien lebih terdorong untuk tampil sakit dan kerap kali telah memiliki wawasan dari perilaku yang ditampilkan.

Sub tipe dari gangguan buatan adalah sindrom Munchausen atau Munchausen’s Syndrome. Menurut sejarah psikiatri, gangguan ini diperkenalkan pertama kali sebagai Sindrom Munchausen pada tahun 1951 oleh Rihard Asher, seorang klinisi yang menemukan kasus seorang pensiun perwira kavileri Jerman, yaitu Baron Karl Von Muncausen, yang secara dramatis menceritakan pengalamannya berpergian dari rumah sakit ke rumah sakit di berbagai kota untuk mendapatkan perawatan medis. (Jaghab, 2006). Sindrom ini tidak hanya dialami oleh individu dewasa tetapi juga berdampak negatif pada anak kecil yang memiliki pengasuh penderita sindromini.

Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP) yang juga dikenal sebagai Factitious Disorder Imposed on Another adalah sebuah gangguan psikologis yang termasuk dalam kategori gangguan buatan kronis. MSbP ditandai oleh perilakuseorang pengasuh memanipulasi gejala penyakit yang diderita oleh sang anak asuh untuk mendapatkan rasa prihatin dan simpati dari orang lain. Menurut dr Jaghab (2006), pemalsuan penyakit atau gangguan buatan ini pada orang dewasa mungkin terkesan menjengkel kan, namun apabila perlakuan ini dimanipulasikan pada anak, maka akan lebih menimbulkan frustrasi karena pengasuhatau orang tua mereka bahkan rela melihat anaknya yang pada dasarnya sehat harus menjalani tes dan operasi yang menyakitkan atau berisiko untuk mendapatkan perhatian khusus dari orang lain. Robertson (dalam Lehmkuhl, 2008) menyatakan bahwa pasien atau pelaku dengan sindrom ini membuat gambaran penyakit yang kompleks, biasanya dengan riwayat yang panjang, dan mengunjungi banyak dokter dan rumah sakit, menjalani beberapa prosedur berbahaya, tetapi sering kali pergi dengan tiba-tiba dan dengan marah.

Ciri-ciri Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP)

https://parenting.firstcry.com/articles/mental-disorders-in-children/

Libow (2000) menyebutkan bahwa gangguan buatan kronis (Munchausen’s Syndrome by Proxy) cenderung terjadi pada wanita berusia 20 hingga 40 tahun yang bekerja di bidang medis, seperti sebagai perawat atau klinisi. Mereka cenderung tidak menikah meski telah berusia setengah baya dan tinggal berasingan dari keluarga mereka. Pelaku Munchausen’s Syndrome by Proxy(MSbP) biasanya terjadi pada ibu yang menyebabkan penyakit pada anak-anakmereka. Namun, terkadang ayah atau orang lain juga bertanggungjawab atas terjadinya kesan destruktif sindrom gangguan buatan ini pada anak-anak.

Para peneliti telah menggaris bawahi beberapa kepribadian sifat patologis atau gangguan identitas yang muncul pada pelaku Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), yaitu hubungan interpersonal yang tidak stabil, ide bunuh diri berulang atau self-mutilating. Perilaku serupa juga ditemui digangguan kepribadian border line. Selain itu, individu dengan sindrom ini dikatakan penuh dengan muslihat dan tipu daya serta tidak mempunyai rasa penyesalan. Mereka biasanya gagal untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial. (Ritson& Forest, 1970).

Terdapat juga studi yang mencatat bahwa pelaku Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), memiliki ciri adanya pseudologia fantastica, yaitu mengatakan kebohongan besar mengenai riwayat pendidikannya, riwayat masa lalu, riwayat sosial, riwayat sakitnya dan sebagainya. (Feldman, 2007).

Studi Kasus Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP)

Kasus yang paling gempar terjadi akibat gangguan jiwa ini telah menghebohkan seluruh kota Missouri, Amerika pada tahun 2015 silam dimana seorang remaja perempuan dibawah umur bernama Gypsy Rose Blanchard, dan pacarnya telah bekerjasama membunuh ibu si gadis (Dee Dee) dirumahnya pada malam hari. Pada 15 Juni 2015, Dee Dee Blanchard ditemukan terbunuh di rumahnya di Springfield, Missouri, dan putrinya yang terikat kursi roda, Gypsy Rose Blanchard, dilaporkan hilang. Setelah Gypsy dilacak ke Wisconsin dan terlibat dalam pembunuhan itu, apa yang dimulai sebagai kisah mengerikan tentang pembunuhan seorang ibu berubah menjadi kisah aneh tentang penipuan dan pelecehan anak. (Widianingtyas, 2018)

Pembunuhan tragis ini adalah akibat fatal dari gangguan jiwa sang ibu yang menderita Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), dimana Dee Dee menuturkan Gypsy mengidap beragam penyakit. Mulai dari cacat kromosom, distrofiotot, epilepsi, asmaberat, apnea tidur, leukimia, kerusakan otak, hingga penyakit mata. Dee Dee mengaku semua itu sudah diderita Gypsy sedari kecil. Gypsy dipaksa menjalani beberapa prosedur operasi pada tubuhnya (yang tidak seharusnya ia jalani) dan ia juga dipaksa mengkonsumsi makanan dalam bentuk cairan melalui silang yang dipasang pada bagian perutnya dikarenakan kuman pada giginya yang membuat gigi nya mudah rusak. Gypsy ‘hidup’ diatas kursi roda selama hampir 19 tahun sejak ibunya memalsukan kelumpuhannya terhadap dirinya dan publik.

Gypsy pada akhirnya sadar bahwa ia tidak pernah sakit dan ibunya telah memanipulasi fakta tentang penyakit kronis yang konon ia derita, sehingga berhasil meyakinkan dunia bahwa dia seolah-olah sedang sakit. Semuanya dilakukan demi mengaut keuntungan yang banyak dari dinas sosial dan masyarakat yang prihatin akan nasib dirinya. Selama “sakit”, Dee Dee dan Gypsy memang mendapatkan banyak fasilitas secara cuma-cuma. Mulai dari tiket pesawat gratis, menginap di villa bagi pasien kanker, sampai berlibur ke Disney World. (Widianingtyas, 2018)

Menurut Lewis (2017), kasus Dee Dee adalah kasus klasik yang menyangkut penyakit Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), atau lebih dikenal sebagai sebagai gangguan buatan yang dipaksakan pada orang lain factitious disorder imposed on another. Istilah ini mengacu pada penyakit mental yang ditemukan pada pengasuh yang berbohong tentang, menghasilkan, atau melebih-lebihkan gejala penyakit atau kecacatan pada orang lain. Meskipun sangat jarang, itu paling sering terjadi antara seorang ibu dan anaknya.

Untungnya, Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), ini dapat dikategorikan sebagai gangguan langka yang jarang terjadi. Menurut Klinik Cleveland, hanya 1.000 dari 2,5 juta kasus pelecehan anak di Amerika Serikat yang dilaporkan setiap tahun berasal dari Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP). Namun sayangnya, karena orang-orang seperti Dee Dee yang menyalah gunakan tanggungan mereka dengan caraini, sehingga sering tampak mencintai dan menyayangi anak jagaan mereka, dokter masih mengalami kesulitan men-diagnosis sindrom tersebut, bahkan ketika ia nya terjadi tepat di depan mereka.

Daftar Pustaka/Referensi :

Feldman MD, & McDermontt, B.M, (2007). Malingering in the medical setting. Psychatric Clinics, 30 (7), 645-662.

Jaghab, K., Kenneth B., Skodnek, Md., & Padder, A. T. (2008, March 13). Munchausen’s syndrome and other factitious disorders in children—case series and literature review. Psychiatry, 46-55.

Libow JA. Child and adolescent illness falsification. Pediatrics, 2(105), 336–422

Lehmkuhl, U., Ehrlich, S. M.D., Pfeiffer, E. M.D., Harriet, S. Ph.D., Lenz, S., & Math. Factitious disorder in children and adolescents: a retrospective study. Psychosomatics,49(5), 393-398. Diakses dari http://psy.psychiatryonline.org.

Lewis, E. (2017, August 08). Care Gone Wrong: Bad Moms, Fake Disabilities ,and Imagined Illnesses. Nursing Clio. Diakses dari    https://nursingclio.org/topics.

Ritson B, Forrest A. The simulation of psychosis: A contemporary presentation. Br J Med Psychol 70(43), 31–7.

Shirly, M. R. (2014) GangguanBuatan (Factitious Disorder). (Skripsi Dipublikasikan). Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Widianingtyas, H. (2018, Juli 26) Kisah Ibu yang Ingin Anaknya Sakit, dan Anak yang Ingin Ibunya Mati. Kumparan NEWS. Diakses dari https://kumparan.com/kumparannews

Penulis : Fatimah Zuhra Mahasiswa Jurusan Psikologi Uin Ar-Raniry Banda Aceh

Disclaimer: Opini/Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

 

Categories
Diskusi

Study and Research in Germany and German Alumni Program

PAJ Aceh Gelar Webinar Studi di Jerman Perhimpunan Alumni Jerman Aceh (PAJ Aceh) akan menyelenggarakan webinar yang bertajuk “Sharing Session : Study and Research in Germany and German Alumni Program”, pada Sabtu (10/10), 14:00 WIB-16:00 WIB.

Acara ini menghadirkan Duta Riset DAAD Indonesia, Dr.rer.nat. Muksin Umar, M. Phil., alumnus Universität Potsdam. Beliau tercatat sebagai dosen pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik Geologi Univesitas Syiah Kuala.
Akan hadir sebagai pemateri, Suci Rahmaneta, ST, mahasiswi Bauhaus-Universität Weimar Jerman, serta penerima Awardee DAAD-Aceh Scholarships of Excellence Tahun 2019, dan Sangga Rima Roman Selia, M.T., dosen Fakultas Teknik Program Studi Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala, yang sedang menempuh pendidikan doktoral pada Helmholtz Institute Freiberg.

Dari kalangan alumni, hadir sebagai pemateri Teuku Arriessa Sukhairy, M.Sc., alumnus Ruhr-Universität Bochum. Ia aktif sebagai IT Development Expert pada Bappeda Banda Aceh. Turut hadir sebagai pemateri, Alman Faluthi, M. A., alumnus Bauhaus Dessau. Alman dikenal sebagai CEO & Founder di JURU+ sebuah start-up lokal Aceh.

Zakiul Fuadi, selaku perwakilan panitia dalam wawancara dengan Padebooks mengungkapkan bahwa webinar tersebut merupakan kegiatan seminar bulanan yang diselenggarakan oleh PAJ Aceh. “Untuk sharing session kali ini adalah seminar di bulan ke-empat. Materi dibagi menjadi dua segmen. Yang pertama untuk calon mahasiswa/i yang akan belajar ke Jerman, baik itu di jenjang S2 atau S3. Sedangkan di segmen kedua mengenai alumni program untuk mahasiswa yang sedang belajar di Jerman. Kira-kira setelah selesai studi, benefit apa yang didapat sebagai alumni jerman,” katanya.

Kegiatan ini turut didukung oleh Humas dan Protokol Setda Aceh, acehinfo.com, Padebooks, acentrend.com, iloveaceh.org, sebagai rekan media, dan akan dipandu oleh Mulya Adhithia, M. A., Program Manager Padebooks, alumnus Technische Universität Ilmenau Jerman.
Link pendaftaran bisa diakses melalui: https://bit.ly/vortrag04

Categories
Diskusi

Online Seminar PBI UIN Ar-Raniry Series 3

Department of English Language Education UIN Ar-Raniry Banda Aceh, EDSA, Lentera Intelektual Indonesia and Padebooks proudly presents the 3rd Online Seminar entitled : “The Youth Language and Identity in Social Media”.

In using digital media, it is important to know how language is used and presents the youth identity in social media. Book the date now.

* FREE*

?️ Date : Wednesday, 16 September 2020
⌚Time : 09.00 AM – 12.30 PM
? Venue : Virtual Zoom Meeting

Speakers :
1. Dr. Howard Manns (Monash University Melbourne, Australia)
2. Dr. phil. Saiful Akmal (UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia)
3. Dr. Meinarni Susilowati (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
4. Dr. Ahmad Bukhori Muslim (Universitas Pendidikan Indonesia)

Moderator : Fera Busfina Zalha, MA (UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia)

E-CERTIFICATE AVAILABLE

JOIN & REGISTER NOW

Registration link : bit.ly/31GRPzC

Categories
Diskusi

Webinar Psikologi dan Resiliensi Pembelajaran di Masa Pandemik

Wabah COVID-19 turut memberikan dampak terhadap dunia pendidikan, termasuk isu psikologi dalam kegiatan belajar menngajar. Menyikapi hal tersebut, Lingkaran Aceh bersama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Gajah Putih Takengon, Universitas Ibn Khaldun Bogor, Lentera Intelektual Indonesia, dan Padebooks menyelenggarakan Webinar Nasional 2.0 Lingka Kampus mengangkat tema “Psikologi dan Resiliensi Pembelajaran di Masa Pandemik.”, Selasa (18/8), 09.00 WIB via aplikasi Zoom.

Webinar ini menghadirkan Dr. Izzatur Rusuli, dosen IAIN Gajah Putih Takengon, dan Nurul Milla, Ph.D, dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor sebagai narasumber. Acara akan dipandu oleh moderator Rahima Nurviani, M. Ed dari Lentera Intelektual Indonesia, dan host Muhammad Dekar, M. Pd dari Lingka Aceh.

Tertarik mengikuti webinar ini? Anda dapat mengaksesnya via aplikasi Zoom dengan Meeting ID dan passcode sebagai berikut:
ID: 923 8659 7206
Passcode : kampus
Tersedia e-sertifikat untuk peserta yang mengikuti kegiatan ini.

Categories
Press Release

Selamat dan Sukses!

Kepada anggota Padebooks Khairul Azmi, S. Sos dan Dhiyanti Islami, S. Pd yang telah meraih gelar sarjana masing-masing pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, pada Kamis (13/8).

Semoga ilmu yang telah didapatkan bermanfaat bagi orang banyak!

Categories
Penulis Tamu

Simalakama Kebijakan AMBIGU COVID-19

Hari ini dunia dihadapkan dengan hantu belau pandemi bernama Covid-19 yang mengoyak sendi-sendi kehidupan sosialmasyarakat. Virus Novel Corona Virus (NCoV) yang menyerang saluran pernafasan ini berasal dari kelompok yang sama dengan Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Pada tahun 2012 ada sembilan negara yang telah melaporkan kasus MERS-CoV, yaitu Perancis, Italia, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Tunisia, Jerman, Inggris dan Uni Emirat Arab. SARS-Cov menjangkiti setidaknya 32 negara di dunia pada tahun 2003. Berbeda dengan pendahulunya,Covid-19 menyerang hampir seluruh negara di dunia.

Pemerintah Indonesia mengambil sikap yang menurutnya tidak mau gegabah dengan alasan menjaga stabilitas perekonomian negara agar tak goncang. Kebijakan-kebijakan yang diambil sangat hati-hati sehingga tak jarang menimbulkan masalah baru karena bersifat abu-abu seolah tidak serius dalam menghadapi bencana global ini. Antara latah dan gamang, pemerintah pusat bahkan sulit memutuskan apa yang seharusnya dilakukan untuk menangani pandemi yang terus menyerang ini.

Sementara beberapa daerah tanpa menunggu kebijakan dari pemerintah pusat, langsung mengambil tindakan sendiri dengan berbagai kebijakan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan daerahnya mulai dari provinsi, kabutapen/kota bahkan desa mengambil langkah cepat demi mengamankan wilayahnya. Kondisi seperti ini seolah menunjukkan bahwa pemerintah pusat tidak tegas dan lamban dalam memutuskan sementara kondisi psikologis masyarakat yang sudah sangat terganggu dengan pemberitaan media yang setiap harinya menampilkan ankga-angka kematian dan korban positif terus meningkat drastis.

Kampanye untuk tetapdi rumah dan membatasi mobilitas masyarakat, gencar dilakukan oleh pemerintah. Disisilain, berita-berita yang muncul di media semakin mencekam sehingga banyak pihak yang terus mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan demi mencegah penyebaran wabah ini. Imbauan terus dilancarkan namun tidak ada kebijakan yang pasti dari pemerintah. Sungguh situasiambigu bagi masyarakat, belum lagi protokol keamanan yang bisa berubah tiga kali sehari bak orang minum obat.

Desakan dari banyak pihak untuk segera melakukan Lockdowniniseolah tidak digubris oleh pemerintah pusat, mengingat masih kuatnya ketergantungan negara dari ekspor-impor barang dan komoditas, ditambah pendistribusian ke seluruh pelosok tanah air yang tentunya tidak mudah bagi pemerintah untuk buru-buru melakukan kebijakan terkait penanganan Covid-19 ini. Kebutuhan-kebutuhan dasar yang masih harus diamankan, alat pelindung diri bagi tenaga medis yang menangani masih harus diimpor dari luar.

Dalam tulisan Kompas.com 23 April 2020, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo membuat pernyataan bahwa tidak ada satupun negara di dunia yang berhasil mengatasi covid-19 dengan Lockdown. Menurut presiden Jokowi, setiap negara tentu punya konteks yang berbeda dalam menerapkan kebijakan meliputi kondisi geografis, tingkat kedisiplinan, kemampuan fiskal dan lain sebagainya.

Disatu sisi, kebijakan presiden RI memang ada benarnya jika dilihat dari kondisi sosial masyarakat kita yang sangat beragam dari tingkat kesejahteraan saja, sudah  menjadi alasan yang kuat untuk tidak memberlakukan Lockdown, mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat bergantung dari pendapatan harian. Oleh karenanya,Lockdown  bukanlah pilihan tepat untuk menangani Covid-19 di negara ini. Jika tetap dilakukan, akan menjadi polemik baru bagi pemerintah, ekonomi negara bisa ambruk sementara pandemi belum tentu bisa teratasi.

Terkait kebijakan Lockdown sudah diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2018, Tentang Karantina Kesehatan. Karantina yang dimaksud adalah pembatasan atau pemisahan seseorang yang terpapar penyakit menular meski belum menunjukkan gejala apapun atau sedang berada dalam masa inkubasi atau barang apapun yang diduga terkontaminasi dari orang atau sumber kontaminasi lain untuk mencegah kemungkinan penyebaran ke orang atau barang lain yang ada di sekitarnya.

Jika kebijakan Lockdown atau dapat diartikan sebagai Karantina Wilayahditerapkan maka pemerintah wajib menanggung kebutuhan hidup dasar manusia dan hewan ternak yang berada dalam wilayah karantina. Hal ini jelas akan menjadi beban yang besar bagi negara yang berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa dengan beragam persoalan yang tentunya menjadi pilihan yang tidak mudah.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi pilihan pemerintah pusat untuk menekan laju penyebaran virus yang tak tampak oleh mata ini. Meski sangat disadari, opsi ini juga bukanlah langkah jitu dalam mengatasi penyebaran yang semakin tak terkendali, toh di beberapa tempat masih saja orang berkerumun dengan mengabaikan protokol keamanan yang saban hari diteriakkan pemerintah meskisetiap hari ada saja pendatang baru yang dinyatakan positif dan meninggal akibat virus ini. Bahkan dari tenaga medispun banyak yang menjadi korban. Entah pasrah atau masabodo namanya, sebagian masyarakat yang terpaksa berjuang di tengah pandemi tetap wara-wiri mencari rezeki.

Aceh, Antara Kebijakan dan Kebutuhan Masyarakat

Aceh selalu menarik untuk dibahas, mengingat kebiasaan masyarakatnya yang khusus dengan latar belakang agama yang kuat sehingga menjadikan daerah ini betul-betul berbeda dengan provinsi lain di Indonesia. Kebijakan pemerintah pusat untuk membatasi berkumpul dalam jumlah yang besar termasuk aktivitas shalatberjama’ah di masjid tentu menuai banyak penolakan dari masyarakat Aceh. Sehingga banyak bermunculan penyataan yang cenderung kontroversial dalam masyarakat dan ramai menghiasi dunia maya. Meski kemudian mulai mengendur seiring berjalannya waktu, melihat angka korban yang positif Covid-19 semakin bertambah bahkan ada yang meninggal dunia.

Pemerintah Aceh sempat menerapkan Jam Malam dengan alasan demi menekan penyebaran virus corona. Sementara pusat-pusat berkumpulnya orang seperti masjid dan pasar masih berjalan seperti biasa. MUI sudah mengeluarkan fatwa untuk menghentikan sementara shalat berjamaah, namun MPU Aceh mengeluarkan fatwa sebaliknya. Pernyataan-pernyataan spekulasi bermunculan secara liar mulai dari pemuka agama hingga tokoh politik mengenai shalat berjama’ah.

Kebijakan Jam Malam ini juga menimbulkan masalah baru bagi sebagian masyarakat yang justru menjalankan aktivitas perekonomian pada malam hari. Dampak jam malam jelas terasa bagi para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari penghasilan harian. Sehingga pemerintah Aceh mengevaluasi kembali kebijakan ini kemudian mencabut pemberlakuan jam malam dengan alasan, pelaku UMKM yang beraktivitas malam hari mengeluh dengan kebijakan ini.

Efek dari kepanikan pemerintah Aceh ini, beberapa desa di Aceh secara mandiri melakukan Lockdown bahkan memblokir jalan-jalan akses gampoeng dan antar gampoeng sehingga mengabaikan protokol tanggap bencana yang seharusnya tidak boleh menutup jalur-jalur evakuasi yang sudah ditetapkan.

Pemberlakuan Jam Malam ini seharusnya dilaksanakan mulai 29 Maret hingga 29 mei 2020. Namun hanya beberapa hari saja berlangsung, pemerintah Aceh mengevaluasi kembali kebijakan ini sehingga hanya beberapa hari saja pemerintah Aceh mencabut pemberlakuan Jam Malam ini.  Pencabutan kebijakan ini tertuang dalam maklumat bersama Forkopimda Aceh tentang Pencabutan Jam Malam dan efektif diberlakukan pada tanggal 4 April 2020.

Namun sangat disesalkan, akibat pengekangan yang dilakukan sebelumnya, masyarakat Aceh justru jadi tak terkendali saat status Jam Malam dicabut. Warung kopi penuh sesak sementara masjid dan meunasah tetap sepi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah walaupun sudah dilakukan rapid test di beberapa pusat keramaian dan angka yang dinyatakan positif bertambah, masyarakat Aceh seolah tak peduli, protokol keamanan jaga jarak dan menggunakan masker seolah gadoh lam angen (menguap begitu saja).

Sungguh menghadapi virus ini, Pemerintah seperti memakan buah simalakama dengan kebijakan-kebijakannya. Disatu sisi ada tanggung jawab besar dalam menyelamatkan rakyat dari ancaman virus yang seperti hantu belau dengan memastikan tercukupinya kebutuhan dasar dengan terus membuka akses-akses massal dalam hal ini transportasi orang dan barang, sementara disisi lain terus menyuarakan pembatasan-pembatasan dalam masyarakat sementara arus keluar masuk barang tidak terdeteksi dengan baik ada atau tidaknya potensi kontaminasi termasuk penyebaran uang dalam masyarakat.

Daftar Pustaka/Referensi :

[1]https://nasional.kompas.com/read/2020/04/23/09325461/jokowi-tak-ada-negara-yang-berhasil-tangani-covid-19-dengan-lockdown

[2]https://www.researchgate.net/publication/340103987_Kebijakan_Pemberlakuan_Lock_Down_Sebagai_Antisipasi_Penyebaran_Corona_Virus_Covid-19

[3]https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200404225345-20-490380/umkm-mengeluh-aceh-cabut-penerapan-jam-malam

[4] https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5e82bdc2d2dd6/kebijakan-dan-kesigapan-pemerintah-kunci-tangani-dampak-covid-19/

[5]Pedoman Umum Kesiap-Siagaan menghadapi MERS-Cov (Kemenkes-RI)

Penulis : Fendra Trisna Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry

Disclaimer: Opini/Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

Categories
Diskusi

Doctoral Study and Research in Germany

Perhimpunan Alumni Jerman Aceh (PAJ Aceh) akan menyelenggarakan webinar “Doctoral Study and Research in Germany”, Rabu (5/8) melalui aplikasi rapat daring.

Webinar yang akan berlangsung pada pukul 10:00 WIB – 12:00 WIB ini mengundang Rifki Furqan, M.Sc, penerima beasiswa DAAD Doctoral and Research Grant 2019 Jacob University Bremen Jerman sebagai pemateri. Ia menekuni bidang penelitian tentang pengelolaan laut dalam pengelolaan area konservasi laut Indonesia. Ia saat ini juga tercatat bekerja pada ZMT Bremen.

Kegiatan ini turut menghadirkan Zuhra Sofyan, M.Sc., peneliti tamu pada Hasso Plattner Institute Potsdam, Jerman, juga merupakan dosen tetap pada jurusan Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Ia berpengalaman dalam mengembangkan aplikasi sistem informasi berbasis web dengan menggunakan framework dan tool web development terkini.

Dalam wawancara dengan Padebooks, Zuhra menyampaikan agar kaum muda yang ingin melanjutkan jenjang studi dapat mengetahui seluk beluk dan pengalaman pribadi tentang sekolah dan riset di jerman. “Baik jalur beasiswa DAAD maupun jalur lain yg belum banyak diketahui,” ungkapnya.

Sementara itu, Dinaroe, SE., MBA.,Ak.,CA, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, juga merupakan alumni Universitas Leipzig Jerman, akan bertindak sebagai moderator.

Kegiatan tersebut turut didukung oleh Humas dan Protokol Setda Aceh, acehinfo.com, Padebooks, acentrend.com, iloveaceh.org, dan sebagai rekan media.

link pendaftaran bisa diakses melalui : https://bit.ly/vortrag02