Gerakan Literasi Padi

Kategori Kolom Pendiri

Banyak yang meyakini bahwa literasi adalah kunci bangkitnya sebuah peradaban. Perintah agar mampu membaca dan menulis merupakan siklus awal dari puncak kebudayaan. Ia juga menjadi prasyarat mutlak dalam proses pendidikan dan pembentukan kepribadian. Itu sebabnya membaca dan menulis menjadi komponen elementer dalam pembentukan individu yang progresif, berkemajuan. Kumpulan individu berkepribadian yang terliterasi ini akan terkulminasi menjadi kelompok manusia yang mampu melahirkan kemajuan berarti bagi kemuliaan dan eksistensinya di dunia, dimanapun mereka berada. Generasi yang terliterasi inilah yang kemudian akan membawa pencerahan kepada komunitas disekelilingnya. Mereka akan meniupkan ruh yang akan menggerakkan aktivitas manusia lebih terarah, kegiatannya lebih bermanfaat, kebudayaannya menjadi terdepan dan peradabannya menjadi lambang kemajuan dan keunggulan. Ia harus bergerak mencari ruang ekspresi, laksana air yang terus mengalir mencari tempat yang rendah agar mereka bisa terus berbagi, sampai akhirnya mereka terhenti mati. Air yang tidak bergerak, tidak mengalir, stagnan hanya akan membawa penyakit bagi peradaban.

Literasi menjadi jendela dan pintu bagi tersebarnya ilmu pengetahuan. Sebagai salah satu keahlian mendasar manusia, membaca dan menulis mendorong manusia agar menjadi lebih kreatif. Ia ibarat cahaya terang penunjuk jalan di tengah dunia yang kalut. Jika membaca adalah jendela ilmu pengetahuan, maka menulis adalah refleksi keilmuan yang terangkum dalam susunan kalimat yang menggerakkan, yang menginspirasi, yang membebaskan. Jika banyak orang bisa membaca, tidak begitu banyak yang mampu merefleksikan, menginterpretasikan dan menterjemahkan hasil bacaannya kedalam tulisan yang menggerakkan. Bukankah Cordoba dan Granada di Andalusia adalah saksi  abadi ketika literasi menjadi kepentingan bersama dan meninggalkan ego-ego sektarian? Oleh karena itu, ilmu pengetahuan pada akhirnya akan dan harus mampu membawa manusia merancang peradaban yang spektakuler, yang melampaui zamannya, menjadi sesuatu yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Literasi dan ilmu pengetahuan adalah tandem abadi. Mereka adalah sejoli visioner. Pasangan serasi yang tidak akan pernah berhenti menebarkan manfaat.

Ditengah kecamuk ide dan gagasan yang melahirkan beragam produk kebudayaan dan peradaban. Gerakan literasi bisa secara gradual membawa masyarakat keluar dari himpitan kebodohan, kemiskinan dan ketidakberdayaan. Namun gerakan literasi yang bagaimana yang bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang setara, terbebas dari tekanan, dan berkemanusiaan? Sebagai bagian integral dari peradaban, gerakan literasi harus mengisi ruang kosong intelektual. Tersemainya ide-ide baru yang bisa berkontribusi bagi adanya sikap respek, saling terbuka, dan humanisme ditengah masyarakat baru akan bisa terealisasi dengan memahami filosofi padi. Produksi ide dan wacana ditengah masyarakat, akan bergerak menjadi aksi dan mendapat dukungan luas jika dia diketengahkan dengan bersahaja dan sederhana.  Bersahaja karena ia adalah literasi yang memberi substansi eksistensi, bukan melulu menampilkan diri. Sederhana karena ia merupakan wujud dari kerendahan hati tapi sebenarnya memberi manfaat tinggi. Generasi literasi padi berupaya selalu memberi ruang aspirasi dan ekspresi bagi entitas yang ada di negeri.  Dengan catatan, mereka sepakat bahwa literasi adalah bukan gerakan memonopoli dan mendominasi, tapi lebih merupakan refleksi dan pondasi bagi kegemilangan peradaban di masa depan yang sepertinya akan terlihat lebih menjanjikan dan lebih pasti.

Hak cipta gambar oleh : toshi.panda dibawah lisensi CC-NC-SA.

Berorangtuakan guru. Sempat bercita-cita dan merintis bakat menjadi penyanyi, atlit, dan politisi. Sekarang menjalani hari-hari sebagai peneliti dan pendidik sambil terus belajar menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *