Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia (Bagian 1 Dari 2)

Kategori Penulis Tamu

Manusia adalah episentrum dunia, yang bertanggung jawab atas semua bangunan peradaban yang dibuatnya. Berbicara peradaban maka bicara sejarah manusia dan sejarah manusia adalah pertarungan antara kehendak untuk menguasai dan kehendak untuk membebaskan. Sejarah untuk menguasai manusia adalah kerja penguasa despotic yang menggunakan kuasanya untuk menguasai dan mengontrol rakyatnya melalui peraturan yang membatasi dan mengekang dengan tujuan penundukan, sehingga kekuasaannya abadi. Sebaliknya, sejarah pembebasan manusia dari kuasa kekuasaan yang menindas adalah sejarah hadirnya sosok-sosok suci (Nabi, Rasul, pemimpin spiritual) yang tidak hanya membebaskan manusia dari eksploitasi kekuasaan tetapi juga membawa pencerahan dalam hidup manusia, untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama manusia.

Mereka membawa ajaran-ajaran (risalah) penghambaan, cinta dan kebaikan sehingga dengan nilai tersebut agama di anut oleh manusia. Agama dianut, dipeluk dan diyakini oleh manusia dikarenakan ada spirit keselamatan dan pembebasan di dalamnya. Pembebasan dari belenggu yang mengeksploitasi, yang tidak menghormati, yang tidak menghargai dan tidak memperlakukan manusia secara bermartabat dan janji keselamatan hidup baik dunia maupun akhirat. Jika di dalam agama tidak ada spirit dan jaminan keselamatan dan pembebasan, maka agama hanyalah artefak, fosil dan hanya menjadi pajangan semata.

Namun, spiritualitas yang membebaskan hakikatnya bukanlah ada pada bangunan agama secara utuh, dengan segala rangkaian peraturan-peraturan moral dan tuntunan hidup di dalamnya, tetapi ada pada sosok paripurna yang membawa ajaran suci dan kemudian dilanjutkan secara terus-menerus sebagai ajaran-ajaran murni dari yang Maha Hidup, Maha Kasih dan Maha Penyayang. Kekuatan yang menggerakkan agama sehingga punya spirit pembebasan bukanlah peraturan-peraturan tersebut, tetapi ada pada sosok paripurna yang punya spiritualitas tinggi yang melampaui maqam-maqam spiritualitas biasa. Spiritualitas yang dipunyai sosok ini adalah bukan spiritualitas yang membebaskan kaumnya sendiri dan agamanya sendiri, tetapi membebaskan manusia, sehingga benar-benar menjadi rahmat bagi semesta, dimanapun yang hidup bertempat dan bertinggal. Sosok seperti inilah yang dapat memberikan pencerahan dan pembebasan, karena spiritualitasnya sudah melampaui rasionalitas dan emosionalitas biasa, sehingga sosok-sosok seperti ini yang terus menerus perlu diduplikasikan melalui latihan-latihan spiritual yang mencerahkan.

Manusia dan Keterpenjaraannya

Paska agama berdiri tegak dan tiang-tiang kekuasaanpun semakin kokoh, maka ruh agama sebagai pembebasan dan keselamatan kembali tercerabut akarnya menjadi penjara-penjara baru di era kekinian. Kekuasaan yang eksklusif kembali menjadi bagian yang memenjarakan manusia melalui segala peraturan-peraturan yang dibuatnya, bahkan, kekuasaan menggunakan agama sebagai benteng bagi kepatuhan manusia terhadap kekuasaan melalui doktrin-doktrin eksklusifitas yang kemudian semakin menyekat dan memenjarakan manusia, sehingga manusia hanya saling kenal sesama agamanya sendiri dan sesama kelompoknya sendiri saja dan hanya peduli pada kelompoknya saja. Akibat ritualitas simbol tersebut (citraan), maka spiritualitas yang lahir hanyalah spiritualitas simbolis, spiritualitas keterpaksaan yang dangkal, spiritualitas yang tersekat, tidak pernah bisa membebaskan manusia, tetapi malah semakin memenjara manusia pada doktrin yang sebenarnya tidak mencerahkan. Spirit agama menjadi dangkal, nampak kuat di permukaan tetapi rapuh di akar terdalamnya.

Manusia saat ini hidup di Era Postmodern, demikian kata Jacques Lacan (seorang tokoh Postmodernisme terkenal), Era Post Modern adalah “Era dimana hasrat, keinginan harus disalurkan, dirayakan dan dilepaskan”. Hal ini tentu paradoks ditengah berkembangnya ritual-ritual agama simbolik yang mengisi ruang-ruang keseharian kita, yang justru menawarkan sebaliknya, “menjalani kehidupan dengan patuh pada aturan-aturan yang justru memenjara manusa”. Ajaran-ajaran yang terus dipertontonkan bukanlah ajaran pembebasan, tetapi doktrin-doktrin bahwa manusia harus mengekang dirinya secara eksklusif, menyekat dirinya sendiri ke dalam ruang-ruang eksklusifitas. Tanpa disadari, sekat-sekat penjara dan pemenjaraan ini bekerja melalui operasionalisasi pengaturan (peraturan-peraturan/Syari’at) dan doktrin-doktrin yang terlembagakan, dengan tujuan kepatuhan, pembiasaan dan penundukkan untuk mengontrol manusia melalui pendekatan penghukuman agar tercipta ketakutan, bukan mendekati manusia dengan kecintaan sehingga melahirkan kepatuhan penuh keikhlasan kepada Tuhan. Drama ini seolah-olah berjasa besar membangun dan menciptakan ketaatan secara massal, namun sejatinya ketaatan tersebut justru kontra produktif dengan pencarian manusia akan spiritualitas yang sebenarnya.

Dalam era meta-teknologi saat ini, ketika dunia-dunia virtual hadir begitu mudahnya dalam kehidupan manusia post-modern, maka segala pengetahuan tentang agama dan spiritualitas bisa didapat dengan begitu mudahnya, hanya dengan sentuhan satu jari saja. kondisi ini tidaklah salah, tetapi segala keasyikan beragama secara virtual tersebut tanpa sadar membuat manusia seolah-olah cukup dengan itu dan melupakan proses pencarian manusia pada hakikat spiritual di dunia nyata. Sehingga makna hakikat spiritual sebenarnya, spiritualitas yang tidak bergantung pada media apapun semakin jauh dari manusia. Gambaran nyata ini juga semakin banyak melahirkan orang-orang yang merasa tahu banyak hal tentang agama dan spiritualitas tanpa pernah mendalami dan menjalani metode spiritual yang benar-benar membebaskan, melalui berbagai tahapan perjalanan spiritual. Manusiapun semakin terpenjara, sehingga jika tidak dibebaskan maka manusia akan terpenjara abadi di dunia.

Mengapa Manusia harus dibebaskan ?

Keterpenjaraan manusia di atas adalah permasalahan krusial bagi eksistensi manusia sebagai subjek peradaban. Ketika manusia terus terpenjara dalam doktrin bahwa peraturan-peraturan syari’at adalah akhir segalanya dan itu adalah kebenaran mutlak, maka esensi keberadaanya tidak akan pernah bisa menjadi rahmat bagi semesta dan bagi sesama. Manusia yang terpenjara akan kehilangan esensi daya kreatifitasnya. Daya kreatifitas yang melampaui doktrin-doktrin sempit sangat diperlukan untuk mendorong interaksi manusia secara lebih luas dan lintas batas. Disini, manusia perlu dibebaskan agar bebas untuk melakukan perjalanan berikutnya, perjalanan penuh daya imaji dan kreatifitas. Perjalanan manusia belumlah selesai, level kepatuhan terhadap segala aturan-aturan (Syari’at) adalah masih sangat awal untuk perjalanan manusia mengenal Tuhan dan kalau manusia terus berada disitu, maka itu adalah penjara abadi manusia. Masih banyak stasiun yang harus disinggahi untuk melanjutkan pengembaraan dan pertemuan dengan yang Maha Memberi hidup. Spiritualitas yang melampaui adalah pembebas sejati dan abadi bagi manusia menuju kesempurnaan hidup, bakti dan pengabdiannya pada Tuhan dan pada kemanusiaan.

Setiap agama, pasti punya sisi spiritualitas yang membuat agama itu kuat dan survive. Fondasi agama adalah spiritualitas. Manusia dalam sejarah kelahiran asalnya adalah mengenal Tuhan sebagai puncak spiritualitasnya, tetapi kemudian dalam proses perjalanan berikutnya, manusia menjalani realitas hidup di luar alam kejadiannya tersebut yaitu dunia. Martin Heidgger (filosof eksistensialis) menyebut proses manusia menjalani skenario kehidupan dunia dengan “keterlemparan manusia”. Manusia terlempar dari kampung asalnya untuk hidup mandiri di alam dunia, segala bekal rasio, intuisi yang melekat padanya harus diasah dan terus ditumbuh-kembangkan ketika menjalani tugas sejarah di alam dunia. Manusia punya kebebasan menjalani kehidupannya, sehingga lama kelamaan manusia kembali lupa pada asal pertemuannya tersebut dan kembali terpenjara pada simbol-simbol ritual perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan sebagai sebuah kenyataan hidup, berubah menjadi sesuatu yang absurd dan spekulatif, padahal pertemuan awalnya dengan Tuhan adalah sebuah realitas mutlak.

Bagi yang beragama, agama adalah sesuatu yang bersifat fitrah bagi manusia, dan kebebasan adalah juga fitrah. Dalam konteks ini, bagaimana cara manusia mendapatkan keduanya sekaligus?, beragama sekaligus punya kebebasan. Agama tidak untuk memenjara manusia, tetapi praktek keagamaan yang di operasionalkan melalui monopoli tafsir seringkali memenjarakan manusia, karena praktek keagamaan dengan pendekatan doktrinal hanya menyentuh tampilan luar manusia, tetapi jiwa manusia memberontak, namun tidak mampu melakukannya, karena ada ketakutan-ketakutan teologis seandainya menempuh metode perjumpaan dengan Tuhan secara nyata.

Jean P. Baudrillard (pemikir sosial modern, teoritisi postmodern saat ini) menyebut era sekarang dengan Era patafisika atau era citraan, dia juga menyebut wacana ini dengan Era Post-Spirituality, yaitu era ketika segala sesuatu (agama, sosial, budaya) ditampilkan hanya dalam wujud citra, permukaan, dangkal, (tercerabut dari akar-akar hakiki), karena meninggalkan fondasi-fondasi transenden dan metafisikanya. Dunia citra ini ditampilkan dalam simulasi-simulasi yang tidak berhubungan lagi dengan realitas fisik manusia. Artinya citra agama yang ditampilkan semakin menjauhkan manusia dari realitas kemanusiaanya yang butuh pelepasan-pelepasan menjadi mengekang pelepasan-pelepasan. Atas dasar inilah mengapa manusia harus dibebaskan, dan jalan sufi (spiritualitas sufi) adalah salah satu jalan yang dapat membebaskan manusia dari penjara tersebut.

Sebenarnya, manusia dalam tubuh dan kesadarannya punya kebebasan yang tidak terbatas untuk menentukan sendiri spiritualitasnya (jalan menemukan dan menjumpai Tuhannya). Jalan yang harus ditempuh manusia adalah jalan mencari dan terus mencari sampai dia menemukan yang sebenarnya dalam wujud hakikat. Namun dalam perjalanan sejarahnya banyak manusia yang menganggap bahwa “doktrin-doktrin teologis, syari’at dan fiqih” sebagai puncak dari segala pencarian. Ketika manusia menganggap ini sebagai puncak perjalanan religiusitasnya, maka secara tidak lansung ini adalah bentuk pengingkaran terhadap “kebebasan” manusia. Kenapa? Karena manusia telah menggugurkan potensi kebebasannya untuk menemukan spiritualitas yang sebenarnya yang masih belum selesai dan berhenti pada level syari’at.

Kita juga bisa memahami kenapa banyak manusia berhenti di level ini, tidak lain adalah karena ketakutan manusia terhadap doktrin bangunan teologis yang mengancam orang-orang yang menempuh jalur- religiusitasnya. Religiusitas adalah lompatan iman tertinggi, jadi berada di level syariat belum bisa dikatakan “religius”. selengkapnya, kita dapat menemukan inti dalam tiga proses perjalanan manusia menempuh jalur religiusitas sebenarnya, yaitu :

Pertama, sikap estetis, yaitu sikap yang “sangat bebas”, dimana semua kemungkinan diperiksa, sekaligus menolak semua kaidah-kaidah yang membatasi kemungkinan tersebut. Dengan cara hidup demikian, manusia memang dihadapkan pada pilihan-pilihan, dan manusia harus memilih. Dalam memilih, manusia mengisi kebebasannya dan bereksistensi.

Kedua, sikap etis, dimana ia tidak lagi memilih, tetapi mulai memasuki kaidah-kaidah moral, menerima suara hati dan menentukan arah hidup. Jelasnya, dalam tahap ini manusia mulai mengakui kelemahannya, misal kelemahan pengetahuannya tentang hakikat Tuhan yang sebenarnya, tetapi ia belum sadar bahwa “ia membutuhkan pertolongan dari atas”. Jika tahap ini sudah dilewati, maka manusia melompat ke tahap yang lebih tinggi, yakni sikap religius.

Ketiga, sikap religius, dimana manusia sudah percaya kepada Tuhan. Namun percaya begitu saja amatlah mudah. Yang diperlukan adalah “manusia percaya kepada Tuhan berdasarkan pergumulan, pencarian, pertanyaan-pertanyaan kita terhadap yang kita percayai itu”. Lebih mudahnya ini dapat kita istilahkan dengan “religiusitas A” (agama yang diajarkan orang-orang umum) dan “religiusitas B” (agama berdasarkan pencarian sampai menemukan yang sebenarnya). Di sini, religiusitas yang sebenarnya adalah “religiusitas B”. Model religiusitas A adalah religiusitas yang sangat mudah dan banyak sekali, artinya kebanyakan orang (mayoritas) yang berada di level ini bukanlah pilihan, karena tidak pernah menggunakan kebebasannya untuk memeriksa, mempertanyakan tetapi hanya menerima saja dengan segala “sikap percaya diri penuh” bahwa ini sudah final. Model “religiusitas A” adalah “penonton” dan “model religiusitas B” adalah “pemain”, insan-insan unggul yang akan menentukan jalan dan roda sejarah kehidupan.

Bersambung ke bagian 2

– T. M. Jafar Sulaiman –

T. M. Jafar Sulaiman
T. M. Jafar Sulaiman, Pemikir muda, Pengajar Filsafat Politik

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

Foto featured image diambil dari: MaxPixel. dengan lisensi public domain

1 komentar pada “Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia (Bagian 1 Dari 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *