The Rise of Mother dan Kematian Kuasa Langit

Kategori Featured, Penulis Tamu

“Bagi tradisi kami, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian adalah landasan penyambutan, bast dan sekhmet yang akan membimbing anda menuju ke padang hijau dimana anda dapat berlari (bermain) selamanya” – Black Phanter

Di awal tahun 2019 ini, sepertinya masih belum terlambat jika kita sedikit melongok ke belakang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Pada Oktober 2017 dan Februari 2018, Marvel secara berturut-turut menawarkan dua pesona Thor Ragnarok dan Black Panther keharibaan pecinta action movie dunia. Semua mafhum bahwa diantara kedua film tersebut, Black Panther ternyata melejit jauh mengungguli Thor Ragnarok. Lebih dari duapuluhan nominasi telah diperoleh oleh film action besutan sutradara Ryan Coogler ini. Dua diantaranya diperoleh dari Golden Globe Awards ke 76 untuk nominasi film drama terbaik dan lagu orisinal terbaik. Bahkan menurut beberapa sumber, film yang dipenuhi dengan aktor berkulit hitam ini juga mengungguli The Guardian of Galaxy 2 dan Avengers Infinity War (dua-duanya rilis pada bulan April 2018), dimana yang terakhir ini diyakini sebagai film induk bagi rangkaian Avengers yang telah rilis sebelumnya.

Selain itu, penulis juga memastikan bahwa film Black Panther juga akan mengungguli film Ant-Man and The Wasp yang telah rilis juli 2018 lalu, serta Captain Marvel (Brie Larson) dan Avengers End Game yang diperkirakan masing-masing akan rilis maret dan april dan tahun ini. Bahkan ada rumor yang menyebut Peter Parker (Tom Holland) akan kembali tampil dalam sekuel Spider Man; Far From Home, yang mengingatkan kita pada mitologi Yunani, Odysseus Long Way Home. Keempat sekuel Marvel tersebut merupakan rangkaian jawaban atas kemusnahan setengah populasi manusia (termasuk juga kemusnahan setengah dari tim Avengers) di muka bumi setelah Thanos menjentikkan jemarinya. Pada adegan terakhir Avengers Infinity War, direktur S.H.I.E.L.D, Nick Fury (Samuel L. Jackson), mencoba menghubungi Captain Marvel; diketahui melalui radio panggil pager yang dijatuhkan ke tanah.

Kekalahan Thor Ragnarok (dan film langit sejenisnya) atas Black Panther adalah adalah kekalahan film action dengan konten melangit atas film dengan konten yang lebih membumi. Tampilan Wakanda (negeri Black Panther) dengan eksotisme benua Afrika yang memukau, mampu membungkam pesona nirwana langitan atau kehidupan planet alien dengan segala keabsurdannya.

Kekalahan Thor Ragnarok sebagai pengejawantahan dunia dewa, modernism dan hip-hip hura (seperti yang ditampilkan dalam planet Sakar) atas film Black Panther dengan tuhan yang membumi adalah kekalahan imaji kuasa langit atas eksotisme dan kearifan rahasia bumi. Thor (Chris Hemsworth) bin Odin (Anthony Hopkins) adalah dewa langit terkuat dengan dua senjata utamanya, Mjolnir (Palu) dan Strombreaker (Kapak).

Kekalahan Thor Ragnarok adalah kekalahan akal atas narasi batin irfāni. Kekalahan rasionalitas atas visi-visi bathiniah. Kekalahan filsafat eksistensialisme atas kebangkitan filsafat esensialisme. Kekalahan Al Farabi dan Ibnu Sina atas Suhrawardi dan Mir Damad. Kekalahan diskursus teologis wujud atas esoterisme mahyiah. Ini juga berarti kekalahan agama samawi atas agama-agama bumi. Karena di langit Tuhan dikenal sebagai Bapak dan di bumi, Tuhan dikenal sebagai Ibu.

Film dengan pesona Black Panther (Chadwick Boseman) dan Erik Killmonger (Michael B. Jordan) tersebut membuktikan bahwa kemajuan teknologi dapat sejalan dengan eksotisme agama bumi. Bagaimana modernisasi tidak selalu identik dengan eksploitasi. Justru kemajuan teknologi menjadi jalan bagi pencapaian kehidupan yang efektif dan ramah lingkungkan. Wakanda membuktikan bahwa kemajuan teknologi yang luar biasa tidak sedikitpun meluluhkan visi-visi keagamaan. Bahkan ritual pelantikan raja semakin apik, ketika sang Black Panther turun dari pesawat supersonik yang juga memiliki kecanggihan kamuflase di udara itu. Dan dalam ritual yang sama, kita juga dapat menikmati kecanggihan bendungan yang dapat mengatur ketinggian air sehingga memudahkan sang pangeran untuk mementaskan pertarungan. Di Wakanda, teknologi hadir untuk memperkuat visi-visi keagamaan dan spiritualitas.

Dalam hal ini, agama purba mengimajinasikan tuhan sebagai ibu ketika agama modern mendeskripsikan Sang Dia sebagai bapak. Agama bumi mengimajinasikan ketuhanan sebagai keintiman (uns) dan kemenyatuan (imanensi) ketika agama langit melihat tuhan dan kebertuhanan sebagai keterpisahan (tanzih) dan keterasingan (transendensi). Agama bumi adalah tentang bagaimana manusia mencintai ibunya, dan agama langit adalah tentang bagaimana manusia hadir dimuka bumi sebagai wakil ayahnya (wakil tuhan, dalam diksi yang eksploitatif dan menindas).

Mistisisme Islam, dalam versi yang paling kiri juga mengakui eksistensi feminisme dalam agama. Mereka meyakini ada yang lebih substansi dari sekedar wujud, yakni mahiyah. Wujud adalah eksistensi dan mahiyah adalah esensi. Wujud adalah eksistensialisme-religiuisme yang dicintai hukama dan fukaha, sedangkan mahiyah adalah pragmatisme-spiritualisme yang menjadi jembatan pelangi bagi perjalanan spiritual kamu sufi.

Adalah Mahiyah sendiri diambil dari kata ma hiya dan apa dia? Dan hiya, merujuk kepada sesuatu yang feminim, kebalikan dari huwa yang merujuk kepada maskulinitas atau ciri kelelakian. Annemarie Schimmel dalam bukunya My Soul is Women, berusaha menampilkan feminimitas dalam tradisi mistik Islam. Dan dalam hal ini, Black Panther dengan ekostisme Wakanda-nya, adalah adi tersendiri dari daya modernisme eksploitatif yang melangit yang menjadi ciri dari film-film Marvel. Ia menunjukan bahwa the mother adalah imajinasi keagamaan tertinggi manusia.

Visi ketuhanan yang kembali membumi, merupakan imbas dari kegagalan teologis tuhan langit untuk memecahkan persoalan keadaban dan kemanusiaan. Agama hari ini bukan lagi hadir sebagai penebar benih kedamaian, akan tetapi digunakan untuk segala kepentingan. Agama dapat dengan mudah menjadi alat penghancur dimana puluhan negara telah tumbang karenanya. Agama langit, entah kenapa telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pondasi bagi kemanusiaan. Agama hari ini, kemudian menjadi tribalitas tersendiri, dimulai dari penguatan narasi identitas, menegasikan kelompok yang berbeda, mengimajinasikan rasionalitas atas nama pemurnian dan meletakkan apa-apa yang berada diluar kelompok mereka sebagai the other, the second class.

Dari prespektif kealaman, agama juga tidak dapat hadir sebagai pembela bagi hewan yang kehilangan suaka karena eksploitasi lahan hutan untuk keperluan perkebunan. Tak dapat dipungkiri, bahwa akhir-akhir ini konflik antara manusia dan hewan justru meningkat dan menelan korban jiwa.

Anehnya, agama tidak dapat hadir untuk menyelamatkan gunung dari pengerukan, menyelamatkan sungai dan udara dari pencemaran dan lebih penting lagi, menyelamatkan bumi dari kehancuran. Modernitas, kemajuan, dan puritanisme agama, selalu identik dengan penguatan kelas sosial yang menjadi surga bagi kapitalisme. Ujung-ujungnya, dimana terjadi penguatan agama, disana lahir kerajaan-kerajaan bisnis yang besar, sentra-sentra eksploitasi dan perusakan lingkungan yang digdaya, dan ketimpangan sosial yang meninggi. Miris.

Visi ketuhanan yang kembali membumi (yang penulis terjemahkan dari keberhasilan film Black Panther) menjadi kritik, betapa makna wakil tuhan, tidak dapat benar-benar diemban oleh manusia kecuali sebagai instrumen keserakahan. Untuk mengimbangi visi eksploitatif dari ketuhanan yang melangit itu, manusia juga harus kembali keakar kebudayaan, ke falsafah kebumian, tentang bagaimana manusia tradisional melihat alam sebagai ibu yang tak boleh diperlakukan secara semena-mena. Harus ada instalasi rasa (meminjam istilah Oman Fathurraman); tentang bagaimana agama bukan sekedar dilaksanakan akan tetapi ditadabburi, dihayati dan dirasakan. Dan untuk itu, manusia tak perlu segan untuk kembali belajar kepada agama bumi, pada bagaimana manusia memperlakukan alam sebagai ibunya.

– Ramli Cibro* –

Ramli Cibro, Penulis Buku Aksiologi Ma’rifah Hamzah Fansuri (2017) dan Dosen Ilmu Agama Islam STIT Hamzah Fansuri – Kota Subulussalam

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

Photo by Bunk from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *