Selamat Datang di Abad Teknologi Informasi!

Kategori Kolom Pendiri

Saya, anda, kita semua adalah generasi digital, yang tumbuh dan besar dalam masa geliat dunia maya yang dengan pesat berkembang  hingga pada titik dimana kebutuhan untuk saling terkoneksi dalam jaringan virtual menjadi sesuatu yang lumrah dan hampir tak mungkin dilepaskan dari kehidupan keseharian kita.

Dari semua biang perubahan pergeseran nilai sosial, yang membuat seolah dunia kini sudah menjadi tanpa sekat, tak mengenal waktu dan jarak lagi, atau dalam istilah Thomas L. Friedman, “The flat world”, kita bisa menunjuk satu maha karya teknologi yang begitu memberikan dampak bagi umat manusia modern dan menjadi sebab utama istilah “bumi yang datar” itu lahir; internet.

Internet lahir dari proyek departemen pertahanan Amerika untuk memanfaatkan jaringan telepon untuk mengirimkan informasi militer melalui jaringan telepon, yang kemudian diadopsi secara terbuka oleh kampus-kampus lokal di USA, yang lalu menjadi cikal bakal internet yang berkembang saat ini.

Mungkin belasan tahun yang lalu, hanya sedikit yang berani memprediksi , jaringan informasi yang muncul dari  saat ini bisa diakses melalui jari tangan dimana saja, kapan saja tentang apa saja. Informasi yang ingin kita dapatkan kini bisa di ambil secara instan lewat internet, dan laiknya segala hal yang berbau instan, pengetahuan yang didapat secara cepat tanpa filter pun terasa lezat, namun rentan mengakibatkan candu bagi yang tidak bisa mengatur dosisnya.

Sebenarnya, ada dua hal yang secara tidak disadari sudah dicabut dari kita saat kita mengkoneksikan diri ke dunia maya: privacy (privasi) dan secrecy (kerahasiaan). Untuk mudahnya membedakan kedua terminologi ini, secara sederhana secrecy adalah rahasia kita, hal yang kita sangat ingin jaga agar tidak sampai diketahui oleh orang lain karena bisa jadi berdampak buruk bila sampai bocor, sedangkan privasi adalah saat kita melakukan hal-hal yang mundane, yang tidak akan membawa kejelekan bagi kita dan orang lain jika diketahui khalayak, tapi kita memilih untuk tidak membiarkan orang lain mengetahuinya, alih-alih direkam, dianalisis dan digunakan untuk menjadikannya objek komersil (seperti halnya iklan akibat video kucing tadi) tanpa seizin kita.

Tanpa kita sadari, internet telah menihilkan privasi yang kita punya, dan khalayak ramai secara suka rela berlomba-lomba mengunggah berbagai data pribadi untuk direkam sebagai komoditas komersil di banyak server lintas negara. Facebook, Instagram, Twitter, dan terutama Google adalah sedikit dari banyak pelaku pendulang data pengguna internet.

Beberapa tulisan saya kedepan dimulai dari keresahan atas dampak sosial dan trade-off yang menanti di balik mudahnya akses informasi yang tersedia di dunia maya. Berangkat dari situ, saya akan mengulas fenomena teknologi, lingkungan virtual dan pemain-pemain dibelakangnya, komunitas perlawanan yang timbul terhadap hegemoni kekuasaan raksasa-raksasa pengintip privasi dan pengumpul data online, termasuk pergeseran interaksi sosial kita yang sedikit banyak dipengaruhi oleh tumbuh kembangnya dunia informasi teknologi khususnya internet, dimana kita secara fisik mungkin terasa lebih individual, namun secara virtual, bisa memuaskan bermacam keinginan dan dahaga informasi kita, termasuk memuntahkan banyak hal-hal terpendam yang secara sosial tidak akan mungkin bisa diluapkan di dunia nyata.

Saya akui, mungkin keberadaan tulisan saya akan sedikit berbeda dari rekan penulis lain. Akan tetapi, memang kultur teknologi informasi yang bagi sesama kita yang awam terasa asing, namun keberadaannya yang tak terelakkan menyeruak dan mampu mengubah tatanan hidup tradisional itu menarik untuk dikupas dan rasa-rasanya perlu ditelaah untuk menjadikan kita sedikit lebih paham karena tidak bisa tidak, ia sudah menjadi bagian hidup kita dan dengan sedikit banyaknya kita memahami, menjadikan kita arif menggunakan teknologi, karena pada akhirnya, segala macam karya cipta teknologi, internet, dan variannya  hanyalah alat, dan tukang yang baik adalah tukang yang tahu aturan main alat kerja yang ia gunakan.

 
Hak cipta gambar oleh : sasint dibawah lisensi CC0 Public Domain.

Lulusan Media Informatika, penyuka sains-teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *