Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia

Spiritualitas Sufi adalah spirit menuju kesempurnaan manusia (al insan al-kamil) yang di dalamnya punya citra-citra ilahiah yang imajinasi dan daya kreatifitasnya adalah ilahiyah (transenden absolut), sehingga dengan citra ini manusia membawa cahaya Tuhan kemanapun melangkah, dan dengan cahaya Tuhan di jiwanya maka manusia dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Setelah manusia dibebaskan dari penjara peraturan-peraturan simbolik, maka Spiritualitas Sufi akan membawa manusia dengan metode-metode pasti menuju perjumpaan murni dengan Tuhan, melampaui sekat manusia, agama, ras, suku dan etnisitas, karena metodenya adalah metode yang tidak berubah dari sejarah awal sampai akhir dunia. Spiritualitas Sufi melampaui segala peraturan moral dan etika (syari’at dan lainnya), karena semuanya memakai metode pengabdian penuh dengan cinta (thariqah), menuju hakikat spiritual sebenarnya dan berujung di makrifah, berjumpa dengan Sang Pemilik spiritual sebenarnya (Tuhan) dan kemudian kembali lagi, tidak lagi sebagai manusia biasa, tetapi sebagai manusia yang membawa citra Ilahi. Sebagaimana yang di narasikan oleh Mulla Shadra, maka dalam spiritualitas Sufi ada pada empat perjalan yang dilalui yaitu :

1). Perjalanan dari makhluk menuju Tuhan.
Pada tahap ini, pengembaraan spiritual (rohani) manusia berusaha untuk melewati dan meninggalkan alam realitas, menanggalkan segala ke “aku” an manusia, untuk berjumpa dengan Tuhan sebagai seorang hamba sejati.

2). Perjalanan dengan Tuhan dalam Tuhan.
Setelah pengembara spiritual dekat dengan zat Tuhan, maka dengan bantuan-Nya, manusia masuk dalam perjalanan menuju berbagai kesempurnaan akan sifat-sifat-Nya, mengambil sifat-sifat Tuhan sebagai pancaran cahayaNya.

3). Perjalanan dari Tuhan menuju makhluk.
Sang Pengembara spiritual kembali ke tengah masyarakat. Namun kembalinya ini bukan berarti berpisah dari Tuhan, ia menyaksikan keberadaan Tuhan pada segala sesuatu dan selalu bersama Tuhan dalam segala situasi dan kondisi.

4). Perjalanan dalam makhluk dengan Tuhan.
Sang Pengembara spiritual berusaha untuk memberi petunjuk kepada masyarakat serta membimbing mereka kepada Tuhan.

Lanjutkan Membaca "Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia (Bagian 2 – Selesai)"

Manusia adalah episentrum dunia, yang bertanggung jawab atas semua bangunan peradaban yang dibuatnya. Berbicara peradaban maka bicara sejarah manusia dan sejarah manusia adalah pertarungan antara kehendak untuk menguasai dan kehendak untuk membebaskan. Sejarah untuk menguasai manusia adalah kerja penguasa despotic yang menggunakan kuasanya untuk menguasai dan mengontrol rakyatnya melalui peraturan yang membatasi dan mengekang dengan tujuan penundukan, sehingga kekuasaannya abadi. Sebaliknya, sejarah pembebasan manusia dari kuasa kekuasaan yang menindas adalah sejarah hadirnya sosok-sosok suci (Nabi, Rasul, pemimpin spiritual) yang tidak hanya membebaskan manusia dari eksploitasi kekuasaan tetapi juga membawa pencerahan dalam hidup manusia, untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama manusia.

Lanjutkan Membaca "Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia (Bagian 1 Dari 2)"