Refleksi Hari Buku Nasional, 17 Mei 2017.

Dahulu, sebutan kutu buku diberikan kepada mereka yang kesehariannya tak pernah lepas dengan buku. Benda ini menjadi teman setia kemana saja pergi. Di dalam bus, di jalan raya, di caffee, hingga di kamar tidur, buku menjadi teman hingga terlelap.

Ada sesuatu yang kurang bila sehari saja tidak mengisi aktivitas dengan membaca buku. Belum selesai membaca satu buku, sudah membaca buku yang lain. Buku membuat hidup mereka lupa dengan segalanya. Di mana ada mereka di situ ada buku, begitulah sebutan untuk para kutu buku.

Namun setelah kehadiran google saat ini, menyebabkan terjadi perubahan besar-besaran dalam dunia membaca. Hampir semua orang menghabiskan waktu dengan smartphone untuk membaca. Tak jarang kita lihat orang-orang yang kakinya sedang berjalan tetapi matanya di smartphone. Mungkin saja yang dibaca sekedar status atau notifikasi pada facebook. Sehingga fenomena inilah yang kemudian penulis sebut sebagai sebuah peralihan dari kutu buku ke kutu google.

Lanjutkan Membaca "Dari Kutu Buku ke Kutu Google"

Jika media sosial semacam facebook dan twitter belum sepopuler seperti sekarang, apakah Trump, atau Jokowi, bakal memenangkan pemilihan umum di negaranya masing-masing?

Tentu apapun jawaban dari pertanyaan ini, apakah ya atau tidak, masih dapat kita perdebatkan di warung kopi. Akan tetapi, sulit dipungkiri bahwa sosial media telah mentransformasi cara kita mengambil informasi dan dalam lingkup yang sangat khusus, dapat mempengaruhi pilihan politis penggunanya.

Lanjutkan Membaca "Politik Komen, Like dan Share"