Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia (Bagian 2 – Selesai)

Kategori Penulis Tamu

Spiritualitas Sufi dan Pembebasan Manusia

Spiritualitas Sufi adalah spirit menuju kesempurnaan manusia (al insan al-kamil) yang di dalamnya punya citra-citra ilahiah yang imajinasi dan daya kreatifitasnya adalah ilahiyah (transenden absolut), sehingga dengan citra ini manusia membawa cahaya Tuhan kemanapun melangkah, dan dengan cahaya Tuhan di jiwanya maka manusia dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Setelah manusia dibebaskan dari penjara peraturan-peraturan simbolik, maka Spiritualitas Sufi akan membawa manusia dengan metode-metode pasti menuju perjumpaan murni dengan Tuhan, melampaui sekat manusia, agama, ras, suku dan etnisitas, karena metodenya adalah metode yang tidak berubah dari sejarah awal sampai akhir dunia. Spiritualitas Sufi melampaui segala peraturan moral dan etika (syari’at dan lainnya), karena semuanya memakai metode pengabdian penuh dengan cinta (thariqah), menuju hakikat spiritual sebenarnya dan berujung di makrifah, berjumpa dengan Sang Pemilik spiritual sebenarnya (Tuhan) dan kemudian kembali lagi, tidak lagi sebagai manusia biasa, tetapi sebagai manusia yang membawa citra Ilahi. Sebagaimana yang di narasikan oleh Mulla Shadra, maka dalam spiritualitas Sufi ada pada empat perjalan yang dilalui yaitu :

1). Perjalanan dari makhluk menuju Tuhan.
Pada tahap ini, pengembaraan spiritual (rohani) manusia berusaha untuk melewati dan meninggalkan alam realitas, menanggalkan segala ke “aku” an manusia, untuk berjumpa dengan Tuhan sebagai seorang hamba sejati.

2). Perjalanan dengan Tuhan dalam Tuhan.
Setelah pengembara spiritual dekat dengan zat Tuhan, maka dengan bantuan-Nya, manusia masuk dalam perjalanan menuju berbagai kesempurnaan akan sifat-sifat-Nya, mengambil sifat-sifat Tuhan sebagai pancaran cahayaNya.

3). Perjalanan dari Tuhan menuju makhluk.
Sang Pengembara spiritual kembali ke tengah masyarakat. Namun kembalinya ini bukan berarti berpisah dari Tuhan, ia menyaksikan keberadaan Tuhan pada segala sesuatu dan selalu bersama Tuhan dalam segala situasi dan kondisi.

4). Perjalanan dalam makhluk dengan Tuhan.
Sang Pengembara spiritual berusaha untuk memberi petunjuk kepada masyarakat serta membimbing mereka kepada Tuhan.

Keempat perjalanan ini adalah jalan abadi pembebasan manusia. Perjalanan ini tentunya tidak dapat dilakukan manusia secara sendiri tetapi melalui latihan (mujahadah) yang tinggi di bawah bimbingan seorang Guru yang telah mempunyai spiritualitas puncak (spiritualitas paripurna). Hal ini sangatlah esensial, karena bertujuan memastikan metode perjalanan pengembaraan spiritual tersebut berada di rel yang sebenarnya, agar hasil yang di dapat juga adalah hasil sebenarnya, bukan rekaan.

Spiritualitas adalah aspek penting bagi manusia. Hakikat manusia adalah jiwanya, fisik hanyalah tampilan luar saja, yang merupakan cerminan dari jiwa terdalam manusia. Kecerdasan manusia bukan hanya kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional, tetapi juga kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan tertinggi. Sekalipun manusia punya kecerdasan rasionalitas dan emosional yang tinggi, tetapi spiritualitasnya tersekat, maka kecerdasan rasional dan emosional itu belum mendapatkan makna substansinya. Ibaratnya keinginannya sangat banyak melakukan segala aktifitas, tetapi tidak bisa bergerak, terdiam, karena terikat dan terpenjara.

Ketika manusia cerdas secara spiritual, maka rasio dan emosinya juga cerdas. Ini semua terkait dengan pengalaman kehadiran. Kelanjutan dari rasionalitas dan emosional adalah pengalaman kehadiran, pengalaman kehadiran adalah wilayah spiritual. Pengalaman kehadiran adalah perjalanan memasuki alam ketuhanan dari sumbernya yang suci dan murni. Seyyed Hossein Nasr menyebutnya dengan “Scientia Sacra”, dan semua itu berlangsung di luar proses akal manusia dan emosi manusia. Pengalaman kehadiran adalah “alam Rabbani”, karena ada tiga alam yang harus dilalui manusia yaitu “Alam Jabarut (Alam Makhluk)”, “Alam Malakut (Alam Malaikat)” dan Alam Rabbani (Alam Tuhan). Cerdas spiritual bermakna tahu dan mengenal Tuhan dengan sebenarnya (bukan citraan). Kenal dalam makna hadir dan bersama, bukan pemikiran. Pada level pemikiran, maka konsep ketuhanan adalah Tuhan yang difikirkan, Tuhan yang disangkakan. Tetapi dalam makna spiritual, maka konsep Tuhan adalah Tuhan yang hadir. Pembuktian rasional akan Tuhan (Tuhan yang terfikirkan, yang difikirkan), belumlah selesai, karena pengalaman kehadiran adalah tahapan lanjutan dari pembuktian rasional akan Tuhan.

Kebebasan manusia ketika memutuskan menjadi apa, juga berlaku dalam kebebasan menetukan jalan dan pilihan jalan spiritualitasnya, karena spiritualitas adalah tahapan tertinggi dari kemanusiaan seseorang. Dimensi spiritualitas adalah dimensi mengalami dan merasakan kehadiran” (dalam konteks pemikiran, ini disebut dengan metafisika). Pengalaman kehadiran ini levelnya di atas rasioHanya mempercayai Tuhan tanpa pernah bisa menjumpainya, maka ini adalah sebagai sebuah bentuk pengingkaran terhadap eksistensi kemanusiaannya yang harus bebas melakukan pencariannya bertemu dengan Tuhan.

Spiritualitas Sufi adalah jalan (metode) yang bisa menyambut dan menyahuti kebebasan manusia dalam keempat proses manusia menempuh jalan spiritualitas tersebut. Dalam spiritualitas sufi manusia akan mengalami kebebasan secara penuh. Terkait kebebasan tersebut, maka semakin cepat manusia bekerja menemukan esensi spiritualitasnya (perjumpaan dan penyatuan dengan Tuhan), maka semakin sempurna esensinya sebagai manusia. Perjalanan yang harus ditempuh sebagai sebuah lompatan besar kesempurnaan selaku manusia yang bebas adalah: 1) Perjalanan menuju Tuhan; 2) Perjalanan bersama Tuhan; 3) Menyatukan diri bersama Tuhan tanpa kemanusiaan lagi; dan 4) Perjalanan kembali bersama manusia dalam segala persfektif ketuhanannya. Oleh karena itu, menjalani praktek spiritualitas Sufi adalah menjalani kesempurnaan manusia, dan itu merupakan jalan pembebasan manusia sehingga potensi manusia sebagai Rahmatan Lil’alamin tercapai. Karena manusia yang dihasilkan dari praktek spiritulitas sufi adalah manusia yang tidak lagi berbuat kekacauan, tidak spekulatif , tidak lagi diliputi kecemasan antara dosa dan pahala atau antara surga dan neraka, karena semuanya sudah jelas. Dan orang-orang yang telah berada dalam “Arasy Spiritualitas Sufi” bukanlah orang-orang sembarangan, mereka adalah orang-orang pilihan, yang sadar betul akan konsep kebebasan menemukan religiusitas yang sebenarnya. Mereka adalah insan-insan yang “diperlukan sejarah dan dibutuhkan dunia saat ini”.

Apakah setelah berada dalam spiritualitas Sufi manusia tidak bebas lagi? Maka jawabannya adalah manusia tetap bebas sebebas-bebasnya, karena dia telah sampai kepada piramida tertinggi, dan ketika menuruni tangga ke bawah, dia bisa turun dari arah manapun, dan setiap saat dia bisa kembali lagi menaiki tangga tersebut menuju puncak dari arah manapun yang dia kehendaki. Esensi menemukan Tuhan sebagai puncak tertinggi telah didapat, setelah itu dia tentu diliputi kesenangan yang tidak bisa digambarkan (ekstase). Konsep kebebasan manusia sejati justru didapat dalam kontek praktek spiritualitas Sufi ini.

Dalam konsep Spiritualitas, dikenal dengan adanya penyerahan diri total. Penyerahan diri ini akan bermakna dan menjadi seutuhnya ketika manusia melompati keimanannya dalam tiga tahap selanjutnya pasca syari’at, yaitu Tareqat, menuju kepada Hakikat (inti, esensi, kebenaran) dan Makrifat (mengalami keadaan kehadiran Tuhan dan mengalami ke-“ada”-an Tuhan yang sebenarnya, tanpa spekulasi, tanpa hijab dan tabir). Dalam kondisi makrifat inilah puncak piramida pembebasan, karena manusia itu berasal dari ketiadaan, kemudian menjadi ada. Selanjutnya dia diberikan kebebasan untuk menjadi esensi “apa” dan kemudian dia kembali kepada pemilik “ada” tersebut. Spiritualitas Sufi adalah “penyerahan diri total” sebenarnya. Penyerahan diri total Sufi bukanlah dalam konteks spekulatif (ketidak pastian), tetapi dalam serba kepastian. penyerahan diri totalnya bukan karena iming-iming surga dan ketakutan terhadap neraka serta untuk limpahan pahala, tetapi semata-mata karena Cinta dan Pembebasan diri untuk pencerahan terus-menerus.

Tugas besar yang harus dilakukan sebagai manusia di semesta adalah bersama-sama menyelamatkan umat manusia dari “penjara-penjara teologis” warisan ribuan tahun lalu, yang telah dikonstruksi oleh struktur kuasa untuk kepentingan kekuasaan, menjauhkan umat manusia dari pemahaman pendefinisian Tuhan yang sebenarnya, dan menjauhkan manusia dari kemanusiaannya yang integral menjadi manusia yang saling membenci satu sama lain hanya karena iman yang dianggap benar, padahal itupun masih spekulatif. Kini tugas yang harus kita lakukan adalah “mendekonstruksi” bangunan teologis warisan despotik tersebut”. Kita harus berani untuk terus berkata bahwa, “sejarah hari ini tidak butuh lagi teologi seperti ini, kita hanya butuh teologi kehidupan, agar manusia dunia menemukan kesejatian eksistensi dan esensi mereka selaku makhluk bebas dan menemukan Tuhan dalam kebebasan mereka mencari dan menemukan Tuhan, bukan menemukan Tuhan karena keterpaksaan”.

Ketika semua orang hampir mati dan beku didalam sistem dan struktur hierakis-anarkis keagamaan syariat, Sufi terus berkreasi dan bekerja dalam segala dimensi massa, ruang dan waktu yang terus menerus membebaskan manusia dengan kekuatan qalbu dan cintanya, sehingga yang beku menjadi cair dan yang hampir mati hidup kembali. Praktek-praktek spiritualitas Sufi merupakan proses “yang dibutuhkan sejarah” sampai kapanpun, sehingga pagar-pagar batas struktural dan sistem keagamaan yang selama ini ibarat penjara-penjara manusia menjadi runtuh berkeping-keping sehingga manusia terbebaskan, tercerahkan dari segala dimensi.

Baca bagian 1

– T. M. Jafar Sulaiman –

T. M. Jafar Sulaiman
T. M. Jafar Sulaiman, Pemikir muda, Pengajar Filsafat Politik

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

Foto featured image diambil dari: MaxPixel. dengan lisensi public domain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *