Fenomena sosial media akhir-akhir ini semakin menegaskan bahwa sesuatu yang terjadi di satu belahan dunia, bisa menjadi viral dan membuat bagian dunia lain menjadi ikut-ikutan latah. Disatu sisi fenomena tersebut seolah menjadi hiburan bagi kebanyakan khalayak untuk seolah sejenak keluar dari himpitan problema kehidupan yang begitu serius dan hampir tidak terpecahkan. Fenomena viral di sosial media “Om Telolet Om“ juga seakan menjadi jalan keluar instan bagi anak bangsa dari segenap permasalahan, mulai dari air mata, makar, penistaan agama, 212, 412, pilkada, kemiskinan, komunisme, radikalisme, terorisme (baca: telolisme) dan lain sebagainya yang jauh lebih serius untuk dicarikan solusinya. Aksi spontan menghentikan bus umum sekedar untuk mendengarkan bunyi klakson “telolet“ tiba-tiba saja menjadi trending topic dan hashtag terfavorit di dunia maya, yang menyebar dengan pasti ke dunia nyata. Mungkin di Aceh, kejenakaan Apa Karya sempat mencuri perhatian para netizen dari fenomena tersebut. Lalu kita tertawa sejenak, kemudian tersadar setelah debat kandidat bahwa perut kita masih lapar. Singkat kata, “om telolet om“ sukses menjadi pengalih perhatian sementara, dan membuat mereka para penganut eskapisme, menarik nafas untuk kemudian mengatur langkah selanjutnya: mengelabui publik dengan politicotainment mereka. Sandiwara, dagelan, drama, skenario dan sejenisnya sengaja dipersembahkan ke khalayak agar mereka lupa bahwa mereka masih miskin, mereka belum sadar atau hak-hak mereka terampas demi kepentingan segelintir orang. Dan menariknya, kita pun merasa terhibur dengan semua itu.

Disela-sela itu perkembangan dinamika politik lokal, nasional, regional dan bahkan internasional bergerak semakin cepat ditengah balutan konflik bersenjata, polarisasi kubu, dan korban yang terus bertambah.  Menjelang Natal dan Tahun Baru bermunculanlah berita heboh. “Om Telolis Om!“, bahkan menyaingi dan mengalahkan fenomena “Om Telolet Om!“ Lalu seketika pun, pimpinan aparat memerintahkan pasukannya menggerebek, menyisir, merazia, dan bahkan, menembak di tempat para tersangka telolisme. Aparat memburu mereka dibawah kilatan blitz kamera televisi dan wartawan. Berita kematian terduga pelaku telolisme menjadi headline dan top story media masa. Tidak lama kemudian para tersangka telolisme tertangkap di beberapa daerah, di Medan, di Jatiluhur, di Tangerang, dan hampir merata disemua penjuru nusantara. Dalam waktu singkat Densus 88 harus siap sedia menyahuti tugas mulia. Di saat yang sama di bagian penjuru dunia lain, Duta Besar Rusia untuk Turki ditembak mati di sebuah pameran lukisan. Pemerintah Turki menuduh telolis Gulen ada di belakang tragedi yang dilakukan oleh seorang petugas Polisi yang sedang tidak bertugas tersebut, lalu Rusia mengatakan bahwa ada yang cemburu dengan hubungan mesra Turki dan Rusia. Di Aleppo, telolis pemberontak Suriah akhirnya melakukan konvoi terakhirnya dan Aleppo setelah 4 tahun perang sengit akhirnya jatuh ke tangan Basar Al Assad. Di Iraq, telolis ISIS membalas serangan militer Irak.  Di Berlin, sebuah bus tronton yang diduga disabotase oleh seorang pemuda pendukung telolisme berasal dari Tunisia dengan sengaja menabrak pasar natal (Weihnahmarkt). Si pelaku yang baru berumur 20 tahun itu katanya ditembak mati oleh Polisi Italia satu hari kemudian. Di jantung finansial Eropa, Zurich-Swiss terjadi penyerangan Masjid yang menyebabkan beberapa orang luka-luka. Beberapa saat kemudian si pelaku ditemukan tewas dibelakang masjid, dan pihak berwajib dan media mainstream mengatakan “belum diketahui apa motif dibalik penyerangan itu“, dan tidak disebutkan asal usul dan identitas si pelaku. Kesimpulannya, bisa jadi dia bukan penganut telolisme. “Om-om (itu) Telolis (juga) Om“.

Lalu kemana ujung dari semua ini. Proxywar? Entahlah. Yang jelas kita terkadang terjebak dalam perang yang dibuat oleh pihak lain. Kita menjadi kaki tangan para pemilik perang. Tidak punya sikap, tidak punya rencana. Celakanya lagi, kita ikut perang tanpa persiapan apa-apa. Hanya bermodal trending topic dan informasi yang kita dapatkan dari sosial media. Dari video youtube, dari situs-situs tidak jelas. Ketika ditanya apa bukti makar? Jawabannya adalah sosial media. Ketika dikonfirmasi apa bukti telolisme? mungkin jawabannya adalah adalah berita online.

Disisi lain, ditengah poros-poros kekuatan dunia sudah semakin terpolarisasi, kita  malah sudah menyatakan keluar dari 6 organisasi internasional. Saat negara-negara lain bisa bersikap dan mulai mencari aliansi terhadap kasus-kasus global yang berdampak regional dan trans-nasional, kita malah sedang mengkaji untuk keluar dari 75 organisasi internasional. Harusnya memperbanyak teman dan sekutu di dunia yang sedang gandrung-gandrungnya dengan telolisme,  ternyata kita malah semakin tenggelam dalam ke-telolet-an kita.  Akhirnya harapan Noam Chomsky agar media dan elit memberikan apa yang dinamakan dengan manufacturing consent atau membangun kesadaran publik, rupa-rupanya belum bisa sepenuhnya terwujud. Mengapa? Jawabannya mungkin salah satu diantara dua hal dibawah. Yang pertama, seperti yang disebutkan diatas, paham dominan yang dianut oleh kebanyakan kita adalah eskapisme dan politicotainment. Membuat publik terlelap bukannya terjaga dan sadar. Atau mungkin sebaliknya? Noam Chomsky sudah terlalu tua dan tidak relevan dengan dunia kekinian?.  Om Chomsky telolet sih.
Foto asli sebelum digital editing diambil dari sumber Corbis

Berorangtuakan guru. Sempat bercita-cita dan merintis bakat menjadi penyanyi, atlit, dan politisi. Sekarang menjalani hari-hari sebagai peneliti dan pendidik sambil terus belajar menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *