Merobohkan Pagar Kampus

Kategori Penulis Tamu
pagar kampus

Tulisan ini dimulai dari rasa jengkel penulis melihat kampus (universitas) yang kian eksklusif menutup diri dari dunia luar (masyarakat). Kampus yang sejatinya adalah mitra masyarakat dalam membangun kualitas hidup masyarakat, kini berubah menjadi lembaga birokrasi-administrasi. Seharusnya kajian-kajian dan pendidikan di dalam kampus digunakan sebagai pemberdayaan bagi peningkatan kualitas masyarakat. Untuk itu kampus haruslah berada disisi masyarakat, dekat dan selalu menjadi pemecah masalah dalam kesulitan yang dialami masyarakat.

Para akademisi sebagai “the making of society” kini tidak ubahnya hanya sebagai pegawai pemerintah yang berjuang dengan lembaran tugas administrasi. Sungguh membosankan melihat para akademisi penurut yang lidah basahnya selalu digunakan untuk menghitung lembaran kertas laporan negara. Perebutan jabatan, sikut-menyikut agar kebagian “ngobjek” kegiatan akademik, bahkan sampai perebutan jam mengajar membuat kehidupan kampus tidak berbeda dengan gedung Senayan, penuh kepalsuan, omong kosong dan politik kotor.

Kampus sebagai institusi dan akademisi sebagai “masyarakatnya” harus berani keluar dari zona nyaman dan terbangun dari nina bobo kekuasaan. Kampus harus sadar akan situasi masyarakat, keluhan dan tangisan masyarakat. Kalau perlu kampus harus didorong untuk keluar dari pagar yang membatasi pandangan antara dunia kampus dan dunia luar.

Para akademisi harus disadarkan akan tugasnya sebagai mitra masyarakat. Peran kampus sebagai pembentuk masyarakat jangan hanya dikunci dalam visi dan misi. Visi dan misi kampus seharusnya benar-benar memobilisasi pemberdayaan masyarakat. Kampus harusnya dapat melihat realita masyarakat disekitar. Mengangkat realitas tersebut kedalam kajian-kajian ilmiah, lalu memberikan solusi demi menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat. Maka sudah seharusnya pagar yang membatasi dunia kampus dan dunia luar harus dirobohkan.

Pagar yang dimaksud dalam tulisan ini ialah jebakan sistem birokrasi dan kapitalisasi pegetahuan melalui penelitian dan jurnal bereputasi. Kehidupan kampus semakin berkutat pada hal-hal kuantitas harus diakui disebabkan karena para akademisi yang kian ter-birokrasi. Hal ini mengakibatkan jabatan struktural menjadi idaman sebagai bentuk pengabdian. Selain itu target jurnal internasional menyebabkan kesibukan untuk menatap dunia internasional mengalihkan pandangan untuk melihat masyarakat sekitar. Parahnya target publikasi jurnal bereputasi tidak lahir atas kesadaran menjaga kualitas diri. Melainkan tekanan syarat administrasi semata. Kedua hal ini menjadi kronis yang kian hari kian menggrogoti pola pikir akademisi di kampus. Cara pandang inilah yang harus dirobohkan!

Para Akademisi Yang Kian Birokrat

Dalam tulisan ini saya tidak menggali pengertian birokrasi secara teoritis. Saya juga tidak menggali pemaknaan birokrasi secara mendalam. Penulis melihat bagaimana birokrasi yang dijalankan didalam kampus nyatanya menghadirkan kemandekan kreativitas dan kesadaran untuk berbuat ke masyarakat. Segala hal akan dilihat berdasarkan level struktural, norma dan juga kontrol kuasa. Hal inilah yang dalam pandangan penulis menjadi belenggu kebobrokan pemikiran akademisi saat ini.

Akademisi yang menyibukkan diri akan lembar kegiatan birokrasiakan menyebabkan kedangkalan berpikir. Ketakutannya terhadap struktur menyebabkan ia kian menjadi feodal. Jerumus ketakutan akan posisi didalam institusi kian memupus sense of civilization (rasa keberadaban) ditengah masyarakat. Pada akhirnya, kelesuan sumbangsih bagi masyarakat sudah tidak dapat terhindarkan.

Secara ideal, akademisi tidak akan cocok dengan sistem birokrasi yang mengekang, feodal dan selalu mencari kuantitas. Akademisi adalah seorang yang bebas, melepaskan diri dari struktur dan selalu berlomba pada kualitas. Namun, kondisi saat ini sepertinya jauh dari ke-idealan tersebut.

Alhasil kehidupan kampus tidak ubahnya sebagai tempat untuk memberi makan anak-istri. Asalkan gaji dan honor sudah cukup, diam saja dikursi dan melipat tangan di meja. Ketika gaji dan honor dirasa kurang, berlomba untuk mencari jam ngajar tambahan jadi solusi andalan. Gelar pendidikan tidak ubah sebagai nilai kapital yang digunakan untuk mengisi perut dan membeli kesenangan. Contoh akademisi seperti ini tidak memiliki tanggung jawab sosial. Menyadarinya pun masih jauh!

Penelitian Untuk Masyarakat, Bukan Kudapan Jurnal Semata

Lazim diketahui, jurnal merupakan instrumen penting dalam mengukur kualitas keilmuan akademisi. Untuk itu, menulis jurnal merupakan hal wajib dan harus dilakukan setiap tahun. Bahkan bagi seorang akademisi bergelar guru besar semenjak Permenristekdikti No 20 tahun 2017 disahkan, kewajibannya menulis dalam jurnal bereputasi internasional maupun nasional menjadi dua kali dalam setahun. Begitupun jika ingin mendapatkan gelar guru besar, maka syarat utama ialah terpublikasinya hasil penelitian dalam jurnal Internasional.

Walhasil, aturan baru ini menjadikan akademisi kian sibuk untuk mempersiapkan tulisan agar dapat masuk kedalam jurnal bereputasi tinggi. Mulai dari penggalian bahan-bahan dari naskah, mencari permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat, hingga mencari anomali empiris yang terjadi pada suatu sub-masyarakat tertentu. Pokoknya, mencari apapun yang bisa dijual ke jurnal bereputasi. Alhasil, masyarakat dijadikan objek kapitalisasi penelitian. Masyarakat yang memiliki konsep hidup berbeda, permasalahan yang khas, serta menjalani ritual khusus merupakan bongkahan berlian yang harus di komersialisasikan dalam bentuk pengetahuan. Masyarakat adalah objek dagangan bagi pengetahuan!

Sumbangan penelitian yang dilakukan masih sangat minim dalam kebermanfaatannya bagi masyarakat. Konon untuk kebermanfaatan masyarakat, malahan penelitian-penelitian yang dihasilkan nyatanya juga bermasalah. Mulai dari plagiat, data penelitian yang direkayasa, sampai kualitas hipotesis yang dihasilkan berkualitas rendah. Permasalahan selanjutnya pula, penelitian yang dihasilkan minim akan solusi bagi permasalahan yang diteliti. Tidak implementatif untuk bisa dihasilkan sebagai produk pengembangan bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan peletakan motivasi penelitian karena untuk menyerap anggaran yang tersedia semata. Alhasil hanya urusan administrasi semata.

Sebenarnya, Direktorat Perguruan Tinggi Islam (Diktis), Kemenristek-Dikti, dan LPDP sebagai lembaga pemberi dana hibah penelitian dan pengabdian masyarakat juga memiliki fasilitas bantuan pemberdayaan masyarakat. Namun, sayangnya fasilitas bantuan pemberdayaan masyarakat kurang diminati dibandingkan dengan bantuan penelitian. Persoalannya sederhana saja, bantuan pemberdayaan masyarakat menuntut kreativitas dan kecermatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bantuan penelitian. Pengelolaannya bukan hanya pada lembaran kertas semata, melainkan dalam bentuk program kerja yang menghasilkan produk pengembangan. Kalau masalah plagiat tulisan saja masih menjadi hal wajar dan tidak dituntaskan, tentu tuntutan kreativitas dalam mengelola program tidak bisa diharapkan.

Saatnya Merobohkan Pagar

Kini saatnya batas-batas yang menghalangi antara dunia kampus dan dunia luar harus ditinggalkan. Para akademisi harus kembali ke fitrahnya sebagai “the making of society”. Hal ini menuntut kampus untuk terus berinovasi dalam memanfaatkan sumber daya manusianya agar dapat memanfaatkan sumber daya masyarakat, yang pada akhirnya menghasilkan kebermanfaatan bagi masyarakat. Kenikmatan birokrasi harus ditinggalkan. Sikut-menyikut dalam perebutan jabatan dan “ngobjek” disadari sebagai bentuk penistaan bagi profesi akademisi dan insititusi kampus.

Penelitian dikembalikan pada hakikatnya untuk menggali potensi bagi pemberdayaan masyarakat. Jurnal tidak hanya sebatas untuk pemenuhan syarat administrasi, melainkan pemenuhan solusi paripurna bagi permasahalan masyarakat. Untuk itu arah penelitian dan kajian akademis harus bersifat implementatif dan responsif. Implementatif dalam artian menghasilkan solusi yang siap untuk diterapkan oleh masyarakat. Sedangkan responsif berarti memiliki sense of civilization. Untuk itu pagar yang membatasi cara pandangan ini harus dihancurkan.

Ia tahu kepatuhan dan ketakutannya tak lain dari kehancuran untuk dirinya sendiri.  – Pram, Anak Semua Bangsa

– Yogi Febriandi* –

Yogi Febriandi
Yogi Febriandi – Peneliti Lembaga Penelitian, Pemberdayaan dan Konsultasi Langsa

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

Hak cipta gambar oleh padebooks.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *