Menulis Aceh dari Dalam

Kategori Kolom Pendiri

Sebagai catatan yang bersifat personal, publikasi mengenai Aceh benar-benar booming, baik oleh penulis luar maupun dalam, paska tahun 2005. Beberapa kelompok masyarakat mendirikan lembaga penelitian, seperti Aceh Institute yang memiliki fokus pada penelitian dan publikasi, lalu juga ada beberapa penerbit lokal lainnya yang menerbitkan topik-topik budaya dan sastra.

Secara umum, publikasi di Aceh Institute saat itu seputar tema Aceh paska konflik. Mulai dari reintegrasi, keislaman, pemerintahan, politik dan lingkungan.

Fokus Aceh Institute itu tentu menjadi penting sebab menulis Aceh oleh orang dalam menjadi penting, karena dapat dianggap memberikan pandangan yang lebih mendalam tentang Aceh itu sendiri. Pergerakan tema Aceh paska konflik ini tentu telah menjadi sumbangan penting, ketika kita sekarang hendak melihat kembali peristiwa 10 tahun yang lalu.

Semakin ke sini topik-topik publikasi tentang Aceh tentu semakin baik. Dan kita harus memberikan apresiasi kepada penerbit-penerbit baru yang terus saja konsisten melakukan pekerjaan, yang sebenarnya secara finansial tidak terlalu menguntungkan. Namun dunia publikasi ini tentu saja bukan melulu perkara finansial. Ada idealisme yang menjadi pertaruhan.

Idealisme itu biasanya tentang sebuah cita-cita abstrak, tentang bagaimana masyarakat itu dibangun masa depan melalui dunia pengetahuan. Sehingga ada pernah ada teman saya yang aktif bergerak pada isu-isu kebudayaan mengatakan bahwa toko buku yang lembaga mereka buka itu, secara bisnis, malah tidak memberi keuntungan.

Hal yang tentu saja masuk akal bagi daerah kita yang memang lambat sekali pertumbuhan dunia pengetahuannya. Walau kini tentu saja secara kuantitas sudah lebih baik. Namun tentu saja pengembangan di sana sini harus terus dilakukan. Misalnya saja tentang perlunya perluasan tema di luar politik dan sejarah.


Perkembangan dunia publikasi tema Aceh sejak tahun 2005 telah ikut membuat beberapa anak muda menginisiasi pendirian sebuah penerbit yang diberi nama Pade Books (berikutnya akan ditulis PB), yang baru berdiri sekitar 6 bulan.

Penerbitan ini untuk ikut memberikan warna  tentang kemana arah publikasi tentang Aceh ini akan bermuara, yang tentunya akan semakin berwarna.

Dalam melakukan pekerjaannya itu, PB memiliki modal sosial yang tinggi, karena lembaga ini diisi oleh intelektuil muda alumni kampus Eropa dan Amerika, dan sudah dikenal dan memiliki reputasi akademik yang mulai mentereng. Jadi pendirian PB jelas bukan pekerjaan main-main.

Dalam merumuskan produk pengetahuan PB melakukan dua fokus; pertama, penerbitan buku-buku non-fiksi yang berkualitas. Yang sudah dikerjakan di tahun 2016 adalah penerbitan biografi politik Amir Husein Al Mujahid karya Ahmad Fauzi, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Langsa.

Penerbitan ini tentu saja dimaksudkan unutk memperkaya historiogafi Aceh kontemporer. Wabil chusus, tema-tema alternatif di luar Pemberontakan Aceh 1976, yang semakin mendominasi penulisan wacana politik di Aceh. Padahal kita bisa keluar dari tema itu dengan mencoba melihat sisi-sisi lain dari diskursus perubahan sosial di Aceh itu sendiri.

Kedua, kehadiran website www.padebooks.com. Disadari bahwa penerbitan buku dilakukan secara berkala. Maka website tersebut dibutuhkan untuk menampung produk pengetahuan secara lebih cepat dan ringkas, namun tetap mendalam.

Beberapa tulisan di website PB selama ini masih diisi oleh para pendirinya. Namun tetap membuka kepada penulis luar yang hendak mengirimkan gagasannya. Hal ini dilakukan sebagai upaya menempatkan intelektuil, baik yang masih muda atau sudah lebih mapan, pada pusaran diskursus yang lebih serius.

Pekerjaan PB tentu saja adalah hasil dari semakin membaiknya iklim pembicaraan pengetahuan tentang Aceh yang dilakukan dari dalam sejak tahun 2005. Yang dibutuhkan oleh kita berikutnya tentu saja konsistensi dan sinergi. Dengan kedua hal itu, tentu dunia penulisan Aceh akan lebih cerah.

Tulisan ini pernah dimuat di Gema Baiturrahman edisi 3 Februari dengan judul “Catatan Suka Duka Penulis Aceh” dan dalam format yang berbeda.

 

Hak cipta gambar oleh : Werbestudio-Kombuechen dibawah lisensi CC0 Public Domain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *