Mengenal Habitus dan Interaksi Sosial*

Kategori Featured, Penulis Tamu

Habitus sebagai gagasan tidaklah diciptakan sendiri oleh Bourdieu, namun merupakan gagasan filosofis tradisional yang ia hidupkan kembali. (Ritzer & Goodman, 581) Dalam tradisi filsafat, Habitus diartikan dengan kebiasaan yang sering diungkapkan dengan habitual yakni penampilan diri yang tampak; tata pembawaan terkait dengan kondisi tipikal tubuh. Jika kita ingat teori kategori yang dicetuskan Aristoteles, habitus dapat kita kategorikan sebagai kategori yang melengkapi subjek sebagai subtansi.

Sebelum lebih jauh mengenal habitus dalam teori sosiologi dan antropologi. Penulis akan memaparkan siapa dan bagaimana Bourdieu dalam menemukan gagasannya hingga dikenal dan digunakan banyak peneliti sebagai landasan teoritis setiap penelitian. Gagasan Bourdieu tidak lahir dengan sendirinya dalam alam pikirnya, namun Bourdieu menghasilkannya dari berbagai interaksinya dengan para guru dan pengalaman hidup yang dilewatinya.

Pierre Felix Bourdieu adalah nama lengkap Bourdieu muda yang kemudian dikenal sebagai pemikir prancis paling terkemuka dalam bidang ilmu sosiologi dan antropologi—Bourdieu muda ini sempat dikenal sebagai jawara pergerakan antiglobalisasi. Sangat tradisionalis memang pemikiran yang menjadi gagasan ketika awal perjalanan keilmuannya. Bourdieu lahir pada tanggal 1 Agutus 1930 di barat daya Prancis. Pada umur 20 tahun, keuletan Bourdieu menyempatkan dirinya untuk belajar filsafat pada Louis Althusser—pada titik ini ketekunan Bourdieu menemukan ketertarikan pada pemikiran Marleau, Hursel, bahkan ia telah membaca tuntas karya Heiddegger ‘Being and Time’, dan karya Karl Marx, walaupun itu semua untuk kepentingan akademisnya.

Pada tahun 1955-1958, Bourdieu sempat menggabdikan dirinya pada sebuah SMA di Maulins, Aljazair. Dan bergabung dengan ketentaraan selama dua tahun disana, sedangkan pada tahun 1958 Bourdieu menjadi pengajar pada universitas Aljazair. Dari Aljazair inilah Bourdieu banyak belajar, ia memperhatikan banyak hal perihal benturan antara masyarakat Aljazair dengan kolonialisme prancis dalam mengkonstruksi asal-usul struktur ekonomi dan sosial khususnya masyarakat kabile suku barber. Hal ini menghasilkan karya pertamanya yang berjudul sociologie de I’Algerie atau The Algarian (1958).

Pada tahun 1960, Bourdieu kembali ke Paris sebagai antropolog autodidak dan mengajar di Universitas Paris dan Universitas Lille hingga tahun 1964. Pada tahun 1993 dia melancarkan tudingan besar-besaran ihwal konsekwensi manusiawi atas tatanan nonliberal yang telah dihabiskan oleh sosialisme prancis. Banyak lagi peran-peran sosial kemasyarakat yang terus digerakkan Bourdieu dalam aktivitasnya

Bourdieu Dipengaruhi Banyak Tokoh

Teori yang dikonstruksikan Bourdieu dibangun dari berbagai pengaruh banyak tokoh dimana dirinya banyak mendapat ilmu pengetahuan dan berinteraksi. Dari Max Weber, ia memperoleh kesadaran tentang pentingnya dominasi dan sistem simbolik dalam kehidupan sosial, serta gagaasan tatanan sosial yang akhirnya akan ditransformasikan kedalam teori ranah-ranah ‘feild’nya Bourdieu. Dari Karl Marx, Ia mendapatkan pemahaman tentang masyarakat sebagai penjumlahan hubungan-hubungan sosial. Hubungan tersebut berlandaskan pada bentuk dan kondisi produksi ekonomi, dan kebutuhan untuk secara dialektis mengembangkan teori sosial dari praktik sosial. Sedangkan melalui Email Durkheim, Bourdieu seperti mewarisi pendekatan Determinisme. Gaya strukturalis yang menekankan struktur sosial untuk memproduksikan dirinya sendiri, ia dapatkan dari Marcel dan Levistrauss. Namun Bourdieu banyak membantah dan menyimpang dari para tokoh yang mempengaruhinya. Durkheim ia bantah bahwa reproduksi struktur sosial tidak beroperasi menurut logika fungsionalis. Salah satu aksi tujuan dasarnya dalam reaksi terhadap akses strukturalis; niat saya adalah mengembalikan kehidupan nyata aktor yang telah dilenyapkan dalam tangan levistrous dan strukturalis laninnya,… (rizer & goodman). Pada ruang ini Bourdieu mampu menghadirkan teori barunya yang kemudian menjadi konsumsi para scholar.

Mengenal Habitus dan Arena

Merujuk pada Ritzer dan Goodman, Habitus merupakan struktur mental atau kognitif yang dengannya semua orang berhubungan dengan dunia sosial. Semua orang termasuk kita dibekali persepsi, pemahaman, pengapresiasian, dan mengevaluasi dunia sosial. Skema ini membuat banyak orang berpandangan dan beranggapan terhadap sebuah struktur yang ada dalam dunia sosial. Secara dialektif Habitus merupakan produk dari internalisasi struktur dunia sosial. Habitus ditemukan sebagai akibat dari ditempatinya posisi di dunia sosial dalam waktu yang lama. (2010: 581)

Saya mencoba merujuk pada Klenden dan Binawan dalam membaca Habitus Bourdieu. Susah-susah gampang memahami Habitus dan interaksi sosial dalam kajian antropologi. Klenden dan Binawan berusaha menafsirkan Habitus yang digagas Bourdieu dengan 7 (tujuh) elemen penting. Penulis menilai, hal ini lebih mudah di pahami dalam ruang pemahaman semua kalangan yang ingin mendalami kajian keilmuan antropologi.

Pertama; Habitus merupakan Produk sejarah. Habitus adalah produk sejarah yang menghasilkan praktik/prilaku individu atau kolektif (Bourdieu dalam Ritzer & Goodman). Habitus terejawantahkan dalam hidup dan kehidupan yang diwariskan oleh perjalan sejarah, hal ini adalah sejarah sosial dimana habitus itu terjadi. Sebuah kebiasaan adalah sistem yang sudah bertahan lama, namun kebiasaan itu tidak begitu saja terjadi. Selain itu, pembentukan prilaku itu butuh upaya yang berkelanjutan dalam proses yang tidak pendek—mengingat hal tersebut telah bertahan sangat lama.

Kedua; Habitus adalah struktur yang dibentuk dan membentuk. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh dunia sosial. Pada dimensi tertentu habitus menstrukturkan struktur; artinya habitus struktur yang menstrukturkan struktur dalam dunia sosial. Namun dalam dimensi yang lain habitus adalah struktur yang terstruktur; ini bermakna habitus yang distrukturkan oleh dunia sosial. Ini dapat kita terjemahkan, meskipun habitus adalah suatu struktur terinternalisasi yang menghambat pemikiran dan pilihan bertindak, namun ia tidak dapat menentukannya. Hal inilah yang membedakan ‘tiadanya determinisme’ adalah suatu hal utama yang membedakan posisi Bourdieu dari posisi strukturalis arus utama.

Ketiga; Habitus adalah struktur yang menstrukturkan. Habitus telah menjadi kesadaran dan sikap yang tertanam dalam setiap diri. Pada waktu tertentu kesadaran dan sikap tersebut menjadi persepsi, presentasi, dan tindakan seseorang.

Keempat; Meskipun habitus lahir dalam kondisi sosial tertentu, dia bisa dialihkan ke kondisi sosial yang lain dan karena itu bersifat transposable. Ini mengartikan sangat mungkin melahirkan kebiasaan sosial lain. Kebiasaan sosial yang dibentuk itu menjadi cara penyelesaian dari suatu masalah yang muncul dari suatu konteks sosial baru. Sehingga keniscayaan tidak akan terus ada, maka kebiasaan juga demikian, karena dapat dibuat atau dilakukan dalam konteks sosial yang berbeda.

Kelima; Habitus bersifat pra-sadar (preconcius). Habitus bukan merupakan hasil dari refleksi atau pertimbangan rasional. Kleden mengungkapkan ‘Habitus merupakan spontanitas yang tidak disadari dan tidak dikehendaki dengan sengaja. Namun juga bukan suatu gerakan mekanistik yang tanpa latar belakang sejarah sama sekali’. Ritzer; Habitus bekerja dibawah alas kesadaran. Habitus bekerja di bawah level kesadaran dan bahasa, diluar jangkauan pengawasan dan kontrol instropeksi kehendak. Habitus bergerak sebagai struktur, namun orang tidak hanya merespon secara mekanis terhadapnya atau terhadap struktur eksternal yang beroprasi padanya. Sebagai teori atau paradigma pedekatan, Bourdieu menghindari kutub ekstrem kebaruan yang tidak dapat diperkirakan dan determinisme total (Kleden, Binawan)

Keenam; Habitus bersifat teratur dan berpola, namun bukan ketundukan kepada peraturan-peraturan tertentu. Ketertundukan bukan berarti ketakutan pada sanksi atau hukuman. Namun lebih cenderung pada tumbuhnya rasa nyaman, senang, bangga dan adanya rasa kebahagiaan. Suatu tindakan baru dapat dikategorikan kebiasaan sosial, ketika aktor tidak lagi mengharap hadiah.

Ketujuh; Habitus dapat terarah kepada tujuan dan hasil tindakan tertentu, namun tanpa maksud secara sadar untuk mencapai hasil-hasil tersebut dan juga tanpa penguasaan kepandaian yang bersifat khusus untuk mencapainya. Tujuan yang sudah terinternalisasi itulah yang membangun sifat sosial, didalamnya terangkum kebutuhan bersama. Habitus mengkonstruk hal-hal positif. Tujuan untuk kesejahteraan dan kenyamanan bersama itulah yang membedakan kebiasaan sosial yang dimaksud dalam pemahaman habitus dengan kebiasaan sopan santun. Karena itu pelanggaran yang dilakukan dalam habitus tidak akan mengoyak kebiasaan yang dibangun dalam sopan santun.

Ketujuh elemen penting yang dibaca Klenden di atas, akan menjadi sangat menarik ketika dilanjutkan dengan arena (ranah/field). Kajian Habitus dalam ranah dapat dijadikan sebagai suatu kerangka dalam membaca kebiasaan sosial yang telah lama terbentuk selain 7 elemen penting di atas. Bourdieu memandang Arena secara relasional dari pada struktur yang mempengaruhinya. Keberadaan relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu. Arena dalah jaringan relasi antar posisi objektif di dalamnya (Ritzer, 582). Oleh karena itu arena kerap diterjemahkan terpisah keberadaannya ‘relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu’. Arena merupakan; kekuatan yang digunakan dalam memperebutkan sumber daya atau modal atau untuk memperoleh akses tertentu yang dekat akses kekuasaan; Arena semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan.

Habitus berkonstribusi besar dalam menganalisis masyarakat; (1) Penggunaan konsep habitus yang dianggap berhasil mengatasi masalah dikotomi individu-masyarakat, agen-struktur sosial, kebebasan determinisme; (2) Bourdieu mengoyak mekanisme dan strategi dominasi. (BioKultur, 2012). Dominasi kekuasaan atau apapun itu tidak lagi terus menerus di teropong dari akibat-akibat luar, namun juga dilihat dari akibat habitus yang telah terbatinkan. Dengan menyingkap mekanisme tersebut kepada para pelaku sosial, maka sosiologi memberi argumen dan menggerakkan tindakan.

Menurut Bourdieu dalam Ritzer & Goodman, ada tiga langkah proses untuk mengalisis arena. Pertama, menggambarkan keutamaan ranah (lingkungan) kekuasaan (politik) untuk menemukan hubungan setiap lingkungan khusus dengan lingkungan politik; kedua, menggambarkan struktur objektif hubungan antar berbagai posisi di dalam ranah tertentu; ketiga, dan analisis harus mencoba menentukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi dalam ranah. Dalam ruang habitus posisi seseorang ditentukan oleh jumlah dan bobot relatif dari modal yang mereka miliki; ekonomi, kultural, sosial dan simbolik dari kehormatan dan prestise seseorang.—Modal ini sangat besar peluang di dibentuk dalam sistem pendidikan—khususnya dalam mereproduksi dan melestarikan relasi kekuasaan dan hubungan kelas yang ada dalam masyarakat.

Interaksi Sosial

Interaksi sosial, dalam hal ini, penulis mencoba mengangkat pandangan Antoni Gidden (1993). Ada tiga gerakan interaksi sosial yang dominan yang perlu kita cermati agar mampu membawa perubahan itu, yaitu interaksi sosial, interaksi komunikasi dan sanksi dan moralitas. (noviandy.com)

Ketiga modal dasar interaksi yang canangkan oleh Bourdieu di atas, akan menentukan perubahan habitus sebagaimana yang didefiniskan oleh Bourdieu (1994). Gerakan perubahan dengan tiga modal interaksi ini akan sangat starategis bila digagas dari sendi pendidikan yang disampaikan Bourdieu. Jika habitus disepakati oleh komunitas tertentu dimulai dari pendidikan, maka akan semakin banyak masyarakat di dalamnya mengadopsi kesadasaran reflektif yang mengontrol mereka untuk keluar dari simpul sosial lama. Artinya wacana baru memiliki nilai ketika kita mampu menumbuhkan praktik-praktik sosial baru.

Namun disisi lain dimensi pendidikan menghadapi masalah yang terus mengalami pembaharuan. Menjaga dan menghidupkan habitus baru tentunya membutuhkan lingkungan budaya yang melindungi pembaruan pemikiran yang akan mengubah kebiasaan buruk sebuah komunitas. Tidak cukup hanya perubahan kerangka penafsiran atau cara berfikir.

Paparan di atas merupakan awal mula gerakan disiplin diterapkan. Kesemrautan dan centang-perenang yang menjadi habitus bangsa kita dikoreksi dengan budaya sosial baru. Gerakan ini telah mengalami berbagai bentuk praktik disesuaikan dengan tingkat dan kesadaran yang mulai terbangun dalam masyarakat.

Tidak hanya budaya antri yang ingin disosor perubahan sosialnya. Para dosen juga mengalami persoalan dengan kebiasaan mahasiswa menyontek—walaupun upaya pengawasan dilakukan dengan maksimal. Moralitas peserta didik ini harus di ubah dengan budaya sosial baru yang tepat—yaitu dengan melakukan ujian secara lisan. Interaksi kekuasaan ini membuat daya tawar mahasiswa menjadi rendah untuk melakukan pelanggaran dan menuntut mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan intelektualnya. Ini merupakan salah satu interaksi kuasa yang tawarkan Giddens yang dapat kita terapkan dalam membentuk habitus yang didefinisikan Bourdieu. Hal ini akan membuka ruang perubahan ketika kekuasaan yang digunakan terarah untuk kebutuhan publik yang lebih baik.

Berbeda lagi dengan Interaksi Komunikasi yang digagas Giddens. Banyak prilaku yang terbangun ditengah kita yang lebih mementingkan nilai-nilai individu. Pelanggan hotel umpamanya—sangat sulit bagi pengelola hotel untuk menghimbau pelanggannya dalam mematikan listrik atau kran air ketika meninggalkan kamarnya. Nilai idividualis ini muncul selaku pelanggan yang telah membayar semua operasional hotel. Nilai individualis ini akan cendrung melupakan dampak penggunaan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlebihan, yang efeknya di kemudian hari.

Pihak hotel pun menjawab persoalan lawas ini dengan fasilitas yang tersistem pada kunci kamar. Setiap pelanggan hotel masuk dan meninggalkan kamar, secara otomatis kunci berfungsi mematikan dan menyalakan fasilitas listrik dan lainnya di kamar hotel. Fasilitas ini memaksa pelanggan untuk mengamankan kamarnya, yang juga mengikuti kehendak pemilik hotel. Dengan cara interaksi komunikasi persuasif ini, perubahan mentalitas bisa dimulai dengan memberikan kemudahan pada pengguna. Hal ini juga akan lebih baik jika disertai dengan ucapan terima kasih ada telah menyumbang upaya penghematan listrik. Budaya ini akan menumbuhkan kesadaran pelanggan, orang tidak lagi melarang, namun persuasi dengan komunikasi.

Ketiga interaksi di atas akan berlangsung baik ketika simpul-simpul kekakuan terbuka. Ada simpul pengorganisasian yang harus dilenturkan dengan sistem yang terintegrasi, ada kompensasi pemberian kemudahan dan peraturan yang sudah mengandung pengawasan. Jadi perubahan yang efektif bukan lagi melalui himbauan, evaluasi atau refeleksi, tapi dimulai dengan menemukaan simpul pengikat praktik sosial tersebut.

 

– Noviandy Husni –

* Makalah singkat ini dipresentasikan pada Friday Forum Discussion, di Perpustakaan IAIN Langsa, 9 Maret 2018
Noviandy Husni – Dosen IAIN Langsa. Manager Program Progressive Institute. Fasilitator Pengembangan Masyarakat, HAM dan Perlindungan Anak

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com


*Pastinya ada banyak gambaran dan ingatan para pembaca sekalian ketika mendengarkan kata “Habitus”. Namun, ekspektasi para peserta Fryday Forum Discution (FFD) belum tentu dapat ditemukan semuanya dalam tulisan singkat ini. Walaupun begitu, penulis juga mencoba menuliskan sedikit banyak pengetahuan yang telah kami dapatkan yang juga berasal dari berbagai forum diskusi yang pernah penulis ikuti.

Hak cipta gambar sebelum olah digital oleh : wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *