Membaca Angkatan Baru di Aceh dalam Kurun Waktu Terakhir Ini

Kategori Kolom Pendiri

Suasana perpustakaan Aceh Institute sore itu semakin ramai dan riuh. Sore itu, di pertengahan tahun 2012, untuk pertama kalinya buku Acehnologi, karangan Kamaruzzaman Bustamam Ahmad dibicarakan. Pembedah yang dihadirkan tidak tanggung-tanggung, diantaranya, Prof. Bahrein Sugihen, Prof. Yusni Sabi dan Prof. Darwis Sulaiman.

Peserta yang datang dari lintas generasi. Saya, yang saat itu didapuk sebagai moderator, melihat beberapa nama tenar hadir. Diantaranya Dr. Nazamudin dan Fuad Mardhatillah. Selain itu, ada nama yang lebih muda, seperti Muhajir al Fairusy, yang kini dikenal luas sebagai antropolog Singkil.

Suasana bedah buku menjadi menarik. Sebab ini kali pertama Aceh itu di –logos-kan. Aceh dijadikan sebagai pengetahuan. Sebuah proyek yang tentunya ambisius.

Acara semakin ramai, ketika satu persatu yang hadir memberikan respon kepada buku tersebut. Peserta ramai memberikan kritik terhadap postur buku itu. Derasnya kritik yang muncul, sampai-sampai membuat Bahrein Sugihen meradang, “Kalau Kamal yang mengerjakan ini semua, bisa mati dia,” terangnya tegas. Kamal, adalah panggilan kecil untuk Kamaruzzaman, hanya duduk dan manggut-manggut saja sepanjang acara.

Lima tahun kemudian, buku kedua Acehnologi kembali dibedah di UIN Ar-Raniry. Saya tidak hadir. Namun dari jauh, melalui media sosial, saya mendapatkan bahwa buku itu mendapat sambutan yang meriah. Sampai-sampai, teman saya, Jafar Sulaiman, pegiat Sufi Muda dengan sumringah menampilkan hadiah buku dari penulis di akun facebooknya.

Tidak ada nama besar yang hadir, seperti di Aceh Institute yang lalu. Hanya ada Sehat Ihsan Sadikin, dosen Studi Islam di UIN, sebagai pembicara, dan Ramli Cibro, sebagai moderator. Nama terakhir adalah penulis artikel memikat di Serambi indonesia tentang Acehnologi (27 Maret 2017).

Acehnologi, di luar Kemal Pasha yang juga menulis sebuah esai di majalah Basis, tahun 2010, adalah penanda tentang bagaimana narasi Aceh itu disusun paska konflik. Seperti pemaknaan Ramli Cibro, dalam tulisannya mengenai Acehnologi, “…cara orang Aceh melihat Tuhannya, cara orang Aceh melihat alamnya, cara orang Aceh melihat sejarahnya dan cara orang Aceh melihat sesamanya.”

Maka dari itu, saya meletakkan kehadiran buku Acehnologi, dengan dua fragmen yang berbeda di atas, sebagai penanda. Yaitu, penanda tentang Aceh yang terus berubah, karena dorongan alam politiknya yang terus berkonflik.

Adalah Anthony Reid, dalam diskusi di Aceh Institute beberapa tahun yang lampau, mengatakan bahwa acap kali setelah konflik Aceh itu selesai, maka acap kali pula muncul kelas yang baru. Kini, apa yang disitir oleh Reid hampir satu dekade sebelumnya, sepertinya semakin menampilkan bentuk yang hampir serupa.

Konflik Aceh memang telah menampakkan kehadiran kelas yang baru. Yaitu kemunculan kelompok yang lebih terdidik. Kelompok ini awalnya diisi oleh angkatan yang terlibat secara langsung dengan konflik bersenjata selama hampir tiga dekade. Namun setelah perdamaian melewati sepuluh tahun, kelas baru yang terdidik itu muncul dari angkatan yang tidak bersentuhan sama sekali dengan konflik.

Mereka tumbuh dalam kondisi Aceh yang damai. Ciri khas dari angkatan itu adalah penguasaan bahasa asing yang terampil. Semakin kreatif dalam merespon kemajuan dan perubahan zaman. Kesempatan berkunjung ke luar negeri melebihi angkatan sebelumnya, dan menuliskannya pengalamannya tersebut untuk masyarakat luas. Singkatnya, mereka tidak membawa ingatan lama. Mereka terus memproduksi, karena posisinya sebagai subjek, dalam narasi yang baru. Yang mereka miliki sendiri.

Situasi ini, secara terpaksa, tampak mirip dengan Aceh di tahun 1970-an. Ketika generasi PUSA semakin kehilangan peran, dan seperti yang disebut oleh Isa Sulaiman (1988), tergeser oleh birokrat yang dilahirkan oleh dua kampus di Darussalam. Ditambah depolitisasi orde baru demi kestabilan pembangunan maka dengan cepat terjadinya kelas baru yang ikut menyokong pembangunan ekonomi. Hal yang dicatat dengan rapi oleh William Liddle (1997) dengan keberadaan sarjana baru itu, dan keberadaan proyek besar, Aceh dicatat masuk lima besar nasional provinsi di Indonesia yang makmur dan merata pembangunannya.

Kini, kelas baru yang terdidik itu, yang saya menjadikan penyambutan atas buku Acehnologi sebagai penanda kehadiran angkatan tersebut, telah membuat kita berfikir kembali bahwa ada sebuah narasi yang berjalan dengan cepat, yang barangkali melompati bangunan generasi yang awal. Yaitu ketika isu-isu politik yang sempat tumbuh kembang di masa-masa penting di tahun 1998-2005 dan menjadi dominan di dalam ruang publik Aceh. ke depan, hal itu akan diganti dengan hal-hal yang lebih kongkret, epsitemik dan metodologis. Tentu saja hal tersebut bergantung juga pada kesiapan pemerintah dan society, untuk memberikan ruang yang lebih besar kepada angkatan baru itu.

 

Gambar sebelum olah digital diambil dari : www.exploreaceh.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *