Matinya Modernisasi Islam

Kategori Penulis Tamu

Sejak Mohammad Natsir dan Sutan Takdir Alisjahbana berusaha menghidupkan kembali modernisasi Islam, telah muncul banyak kader-kader gerakan Islam yang memiliki visi moderat. Ahmad Wahib, Harun Nasution, Nurchalish Madjid dan Abdurrahman Wahid telah memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi usaha modernisasi Islam. Namun belakangan buah pikir mereka seperti telah dilupakan.

Generasi-generasi baru pembaharu Islam di Indonesia yang sempat aktif di panggung modernisasi Islam, kini seperti telah lenyap. Ulil Absar-Abdalla yang sempat populer dengan gagasan Islam Liberal, kini hampir tidak pernah muncul lagi ke publik. Komaruddin Hidayat sempat menjadi harapan baru modernisasi Islam dengan gagasan Perenialisme, malah meredup setelah diangkat menjadi Rektor UIN Syarif Hidayatullah. Do’i belakangan hanya aktif menulis buku-buku tentang tasawuf.

Kondisi yang sama juga terjadi pada Jalaluddin Rakhmat. Era 80-an Islam Alternatif dan Islam Aktual pada 90-an sempat memberikan pencerahan pada generasi muda Muslim yang hasratkan modernisasi Islam. Namun belakangan, selain tergoda oleh dunia politik, dia hanya menghasilkan buku-buku sufistik. Gerakan revivalisasi sufisme tampaknya memang telah menjadi pelarian tokoh-tokoh intelektual Muslim yang sempat menghembuskan angin modernisasi Islam. Haidar Bagir tentunya tidak bisa dilupakan dalam hal ini. Belakangan dia telah menghasilkan sangat banyak karya-karya tasawuf dengan menyuguhkan karya-karya sufi klasik seperti Ibn ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi.

Sebagian intelektual muda Muslim yang sempat menjadi harapan baru pembaharuan Islam,  seperti Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad dan Zuhairi Misrawi, belakangan benar-benar telah disibukkan untuk merespon fenomena-fenomena sosial yang jauh dari refleksi mendalam. Budaya pragmatik dan dangkal, ditambah dengan campur-tangan pemerintah dalam urusan paradigmatisasi pemikiran Islam adalah bagian dari sejumlah alasan menurunnya daya refleksi kaum Muda Muslim yang potensial.

Sebenarnya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad berusaha merespon paradigma-paradigma seperti Islam Nusantara yang dipahami secara dangkal, untuk diberikan sebuah fondasi yang kokoh. Semangat yang sama juga dimiliki oleh Yudi Latif. Nama terakhir ini berusaha memberikan pemaknaan mendalam atas kedalaman Pancasila dan Nasionalisme dalam tinjauan metafisika Islam serta berusaha menanam harmonisasi nalar Islam dan nalar Nasionalisme ke dalam pemikiran masyarakat secara mendalam.

Tetapi usaha-usaha demikian terhambat oleh dua perkara mendasar, internal dan eksternal. Perkara internal adalah kegagalan fokus ontologi dan lemahnya penguasaan epistemologi filsafat Islam oleh para intelektual muda Islam. Akibatnya karya-karya kaum intelektual muda Islam akan kesulitan mempertahankan imunitas fondasi argumentasi bila ditinjau secara epistemologis. Perkara eksternalnya adalah tidak mendapat apresiasi memadai akibat perkembangan budaya pragmatik dan dangkal. Masyarakat menjadi kurang apresiatif terhadap gagasan-gagasan pembaharuan Islam.

Pemerintah seharusnya tidak ikut campur membentuk paradigmatisasi dan konstruksi narasi pemikiran keagamaan. Gagasan Islam Nusantara misalnya. Gagasan tersebut awalnya memang muncul dari hasil refleksi kaum intelektual Muslim. Namun belakangan pemerintah dilibatkan dalam urusan tersebut. Kebijakan demikian berdampak negatif dengan ekses daya fokus intelektual Muslim terseret ke sana. Sehingga mereka sulit keluar dari narasi-narasi yang diviralkan itu. Jadinya budaya refleksi mendalam yang sebenarnya adalah jalan terbaik dalam melakukan modernisasi Islam dengan basis epistemologi yang kuat menjadi langka.

Sejarah telah menunjukkan infiltrasi kekayaan intelektual ke dalam sistem kekuasaan menyebabkan perkembangan diskursus intelektual menjadi lumpuh. Kodifikasi mazhab tertentu menjadi undang-undang formal pemerintah adalah bagian dari bukti di antaranya.

Menurunnya semangat pembaharuan Islam juga sangat dipengaruhi oleh peningkatan semangat kaum Muslim yang berakal sempit untuk mensuarakan kepentingan-kepentingan kaum ortodoks. Reformasi Indonesia telah membuat semua orang sadar akan kebebasan dirinya. Sehingga semua orang menjadi merasa berhak dan secara berani merespon aktif kepentingan-kepentingan tertentu. Semua orang merasa punya keahlian bidang apapun dan merasa diperlukan untuk menyuarakan apapun. Kebebasan ini membuat masyarakat begitu mudah untuk diprovokasi. Akibatnya gerakan massa yang jumlahnya super banyak menjadi pemandangan yang lazim.

Kelompok-kelompok massa tersebut dikendalikan ke arah radikasisasi dan kafirisasi. Kaum intelektual muda Muslim yang berpikiran moderat menjadi tidak berani mendengungkan ide-ide pembaharuan. Mereka merasa terintimidasi oleh massa radikal. Tekanan adalah bagian dari faktor utama terbunuhnya ide-ide progresif.

Di samping dua alasan di atas, lemahnya modernisme Islam belakangan ini karena para pewaris modernisme Islam sebelumnya tidak memiliki pijakan ontologis dan epistemologis yang kuat dalam merumuskan argumentasi-argumentasinya. Umumnya mereka hanya berposisi sebagai catatan kaki dari kaum modernis Islam tingkat dunia seperti Allama Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Seyyed Hossein Nasr dan Syed Naquib Al-Attas. Bahkan para pembaharu Islam di Indonesia itu hanya menjadi murid jauh dan pembaca setia buku-buku komentator pemikiran Islam klasik seperti, Annemarie Schimmel, Fritjof Schoun, William Chittick, Henry Corbin, Toshihiko Isutzu dan William Chittick.

Para komentator itu mempelajari karya Islam klasik menggunakan epistemologi dan metodologi bermuara pada filsafat Barat Modern yang rapuh. Akibatnya karya-karya Islam klasik yang mereka suguhkan adalah reduksi atas reduksi atas redusi atas reduksi. Lalu direduksi lalu direduksi dan lalu direduksi. Reduksi pertama adalah kemampuan para orientalis memahami naskah klasik. Reduksi kedua adalah metode analisa mereka, reduksi ketiga adalah kemampuan penafsiran mereka dan reduksi keempat adalah kemampuan penyuguhan para orientalis itu. Lalu kalangan modernis Islam membaca karya-karya orientalis itu. Reduksi pertama terjadi ketika memperhatikan kemampuan pemahaman kaum modernis itu atas karya para komentator dan orientasi. Reduksi kedua terjadi ketika para pembaharu itu menjadikan pemahaman atas karya orientalis sebagai landasan teori modernisasi Islam. Lalu ada reduksi lagi, yaitu pemahaman pembaca atas gagasan-gagasan modernisme Islam atas karya para pembaharu Islam di Indonesia. Tingkatan terakhir yang merupakan super reduksi itulah yang menjadi persepsi umum bagi fondasi pembaharuan Islam di Indonesia. Sangat rapuh tentunya. Sehingga karya-karya itu tidak berhasil menciptakan estafet pembaharuan pemikiran Islam bagi intektual Muslim generasi selanjutnya. Pembaharuan Islam pun menjadi mandeg.

Ada sebagian kaum muda Muslim yang masih menaruh harapan pada kemungkinan modernisasi Islam di Indonesia di masa yang akan datang. Tapi semangat itu digerus oleh gerakan radikal yang semakin eksis. Namun banyak juga di antara mereka yang memilih bergabung dengan massa radikal. Pertaubatan yang dilakukan banyak tokoh intelektual Muslim yang sebelumnya dianggap sebagai pelanjut pembaharuan pemikiran Islam merupakan bukti kuat betapa rapuhnya gagasan-gagasan modernisme yang sempat jaya beberapa dekade lalu. Mereka tidak mampu melawan gerakan radikal massa awam.

Lantas bagaimanakah nasib pembaharuan-pembaharuan Islam di Indonesia pada masa yang akan datang? Kemungkinan lahirnya generasi muda Islam yang jenius dan punyan ketertarikan pembaharuan pemikiran Islam semakin tipis. Kaum muda muslim semakin dibuat panik oleh tantangan hidup yang semakin berat. Mereka terpaksa memilih untuk fokus pada perkara-perkara dangkal dan pragmatik. Jurusan-jurusan yang berorientasi praktis seperti Perbankan, Teknik dan Kesehatan akan semakin diminati. Sementara jurusan-jurusan seperti Filsafat dan Ushuluddin, sudah bisa memperingatkan para dosen dan karyawannya untuk mempersiapkan diri melamar pekerjaan di tempat lain. ☺

–  Miswari* –

*Penulis adalah pengajar Filsafat Islam di IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan Penulis buku Filsafat Terakhir.

Hak cipta gambar oleh : mufidpwt dibawah lisensi CC0 Public Domain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *