Indeks Prestasi Puasa

Kategori Tulisan Mahasiswa

Setiap ujian pasti punya nilai akhir. Perkuliahan selama satu semester, akan diambil satu masa penilaian pada ujian akhir, atau yang disebut dengan masa final. Pada masa itu sangat menentukan berapa nilai yang akan didapat pada transkrip nilai yang dikeluarkan akademik nantinya, nilai itulah yang disebut dengan Indeks Prestasi (IP).

Tidak jauh berbeda dengan puasa Ramadhan. Selama 11 bulan terhitung sejak Syawal hingga Syahban, ada satu bulan yang disebut bulan ujian yaitu bulan Ramadhan. Kita diuji selama sebulan penuh menahan hawa nafsu mulai dari makan dan minum di siang hari, mengendalikan emosi, melihat maksiat, berbicara yang sia-sia hingga mendengar sesuatu yang menjauhkan diri kepada Allah SWT.

Setelah ujian sebulan penuh berlangsung, maka didapatlah hasil transkrip nilai yang dikeluarkan oleh Allah SWT dalam bentuk indeks prestasi puasa, atau yang lebih familiar disebut dengan sebutan taqwa (Al-Baqarah 185). Namun bagaimana mengidentifikasi gelar taqwa pasca Ramadhan? Apakah semudah mengindentifikasi indeks prestasi pada perkuliahan yang hanya membuka portal web lalu memasukan username dan password maka semuanya sudah tertera di sana?

Identifikasi taqwa

Memang pada dasarnya taqwa tidak bisa dilihat dengan kasat mata, apalagi dalam bentuk tertulis sebagaimana indeks prestasi pada perkuliahan. Namun identifikasi taqwa yang melekat pada diri seseorang dapat kita lihat melalui sikap, perbuatan, tingkah laku hingga kualitas ibadah pasca Ramadhan. Ada dua ciri mendasar yang penulis simpulkan untuk mengidentifikasi seseorang yang sudah sampai pada level taqwa pasca Ramadhan.

Pertama, adanya perubahan baik sikap, tingkah laku maupun kualitas dan kuantitas ibadah antara sebelum dan setelah Ramadhan berlangsung. Dari segi sikap dan tingkah laku, seseorang yang dulu kerjanya suka membuli dan menjaili orang, setelah Ramadhan sikap tersebut mulai hilang. Yang dulunya suka marah-marah, setelah Ramadhan cendrung lebih pandai menguasai emosi. Yang dulunya suka melihat maksiat, setelah Ramadhan mulai bisa menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang.

Kemudian dari segi kualitas dan kuantitas ibadah. Sebelum Ramadhan tidak pernah shalat tahajud, setelah Ramadhan mulai membiasakan diri untuk shalat tahajud karena sudah telatih saat bangun sahur. Yang dulunya hanya menjaga shalat wajib, sekarang sudah mulai terbiasa dengan shalat rawatib qabliyah ba’diyah. Yang dulu infaqnya hanya hari Jum’at, setelah Ramadhan bisa tiga hingga empat kali dalam seminggu infaqnya. Yang dulunya shalat dhuha hanya dua rakaat, sekarang sudah mampu enam bahkan delapan rakaat.

Inilah yang dinamakan adanya perubahan. Orang pada ciri diatas termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Orang yang paling beruntung sebenarnya bukan mereka yang begitu rajin ibadahnya ketika Ramadhan, namun seiring Ramadhan berlalu kualitas dan kuantitas ibadah juga ikut berlalu. Bukankah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang-orang yang beruntung?

Kita kerap kali “Menuhankan” Ramadhan. Menuhankan Ramadhan di sini artinya habis-habisan beribadah pada bulan tersebut, namun tidak memberikan perubahan setelah Ramadhan berlalu. Dalam konteks ini seakan keberadaan Allah hanya pada bulan Ramadhan saja dan tidak pada bulan-bulan lainnya. Ini menurut penulis merupakan cara pandang yang sedikit perlu diluruskan. Bukankah esensi Ramadhan itu sendiri adalah sebagai bulan persiapan untuk menghadapi bulan-bulan berikutanya?

Kita tentu pernah mendengar cerita bagaimana ulat berpuasa sehingga berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Inilah esensi Ramadhan yang sesungguhnya. Ulat berpuasa selama 15 hingga 20 hari (Kabarmakkah.com). Pada fase ini disebut dengan kepompong. Ulat yang dulunya jelek dan menggelikan dari segi fisik kini berubah menjadi spesies baru yang lebih indah, yaitu kupu-kupu. Ulat yang dulunya pemakan tanaman dan meresahkan pemilik kebun kini berubah menjadi spesies yang hanya mengkonsumsi saripati bunga dan madu.

Beginilah yang disebut dengan terjadinya perubahan. Sangat indah bukan? Tidak seperti ular, ular juga berpuasa ketika masa pergantian kulitnya. Namun setelah usai masa berpuasa dan kulitnya telah berganti, tak ada perubahan yang berarti. Masih tetap memangsa binatang lainnya. Dari segi fisik pun, hanya sekedar memperbaharui kulit saja. Berbeda dengan kupu-kupu yang lahir menjadi spesies baru dengan perubahan 180 derajat baik dari segi fisik maupun tingkah laku.

Kedua, setelah berubah adalah istiqamah. Pepatah mengatakan istiqamah itu memang sulit, kalau mudah itu namanya istirahat. Pepatah ini memang ada benarnya. Sebagai contoh, jika sebelum Ramadhan ada diantara kita yang mampu mengkhatamkan Alquran sekali dalam sebulan, pada bulan Ramadhan mampu mengkhatamkan dua hingga tiga kali dalam sebulan. Namun apakah hal ini tetap berlanjut pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya?

Jika dilihat dari pengalaman dan kenyataan, kita banyak menyerah pada tahap ini. Pada bulan Ramadhan, kita termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Namun seiring Ramadhan berlalu, ibadah yang sudah kita jaga sebulan penuh juga ikut berlalu. Padahal Rasulullah telah mengingat bahwa ibadah yang paling dicintai Allah itu bukan seberapa banyaknya, tetapi ibadah yang sedikit namun istiqamah (HR. Muslim no. 783).

Kalau pun tidak sebanyak saat Ramadhan yang mampu tilawah hingga lima juz per harinya, setidaknya pasca Ramadhan mampu istiqamah dua bahkan tiga juz setiap harinya. Jika saat Ramadhan mampu berinfaq full dalam seminggunya, maka setelah Ramadhan ada tiga hari dalam seminggu yang dikhusus untuk berinfaq. Karena memang pada dasarnya esensi Ramadhan itu sendiri adalah melatih kita untuk beribadah lebih baik lagi dalam menghadapi 11 bulan berikutnya.

Berubah cenderung mudah, namun menjaga perubahan itu menjadi sebuah kebiasaan sepertinya benar-benar sulit dan membutuh perjuangan. Dan yang lebih ditakutkan lagi, setelah Ramadhan berlalu, bukan sekedar tidak istiqamah terhadap ibadah yang sudah dilakukan pada bulan tersebut, tetapi malah kembali terjerumus kepada maksiat yang pernah dilakukan pada bulan sebelumnya. Nauzubillah summa nauzubillah.

Tawaran Allah

Ramadhan itu yang dilihat adalah outputnya. Mengistimewakan Ramadhan memang sesuatu yang baik, karena pahala yang Allah SWT berikan pada bulan tersebut berlipat-lipat ganda. Namun alangkah lebih baik lagi ketika Ramadhan itu mampu menjadi asbab menuju pribadi yang lebih baik lagi, apakah saat Ramadhan berlangsung maupun telah usai. Bila output biasa-biasa saja, lalu apa bedanya kita dengan yang lain? Sedangkan gelar taqwa adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang tentunya berbeda dengan yang lain.

Ketika ada seseorang diantara kita sudah meraih indeks prestasi puasa level taqwa, maka imbalannya adalah “Sekarang kamu minta apa? Aku ini Rabbul’alamin lho. Kamu mau apa ah? mobil baru, S2 keluar negeri? Gampang! Silakan-silakan,” begitulah seakan tawaran Allah kepada orang-orang yang sudah mencapai level taqwa. Lalu yang jadi pertanyaan sekarang, apakah saya sudah berubah dan istiqamah pasca puasa? Jika sudah, Selamat! Ini artinya jalan menuju taqwa sudah semakin dekat atau bahkan kita sudah sampai pada level tersebut. Wallahu’alamu bishawab.

-Sara Masroni*-

Sara Masroni – Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Ketua Islamic Study Club (ISC) Al-Fatih. Email: saramasroni@gmail.com

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com
Hak cipta gambar oleh Aznul Fauzi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *