Dari Kutu Buku ke Kutu Google

Kategori Tulisan Mahasiswa

Refleksi Hari Buku Nasional, 17 Mei 2017.

Dahulu, sebutan kutu buku diberikan kepada mereka yang kesehariannya tak pernah lepas dengan buku. Benda ini menjadi teman setia kemana saja pergi. Di dalam bus, di jalan raya, di caffee, hingga di kamar tidur, buku menjadi teman hingga terlelap.

Ada sesuatu yang kurang bila sehari saja tidak mengisi aktivitas dengan membaca buku. Belum selesai membaca satu buku, sudah membaca buku yang lain. Buku membuat hidup mereka lupa dengan segalanya. Di mana ada mereka di situ ada buku, begitulah sebutan untuk para kutu buku.

Namun setelah kehadiran google saat ini, menyebabkan terjadi perubahan besar-besaran dalam dunia membaca. Hampir semua orang menghabiskan waktu dengan smartphone untuk membaca. Tak jarang kita lihat orang-orang yang kakinya sedang berjalan tetapi matanya di smartphone. Mungkin saja yang dibaca sekedar status atau notifikasi pada facebook. Sehingga fenomena inilah yang kemudian penulis sebut sebagai sebuah peralihan dari kutu buku ke kutu google.

Zaman telah berganti. Kita seakan dituntun dari sesuatu yang nyata menuju sesuatu yang maya. Termasuk halnya dalam proses memebaca. Jika dahulu dikenal istilah buku jendela dunia, sekarang berubah menjadi google jendela dunia. Cukup dengan hitungan detik, bacaan yang diinginkan dengan mudah ditemukan. Buku saat ini sudah ditinggalkan. Semua beralih ke dunia cyber (internet) yang hanya bermodalkan smartphone dan paket data yang cukup, dunia berada dalam genggaman kita.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan MCLuhan dalam buku Matinya Dunia Cyberspace (Hadi, 2005: 3). Ia meyakini bahwa perkembangan teknologi telah memungkinkan manusia hidup dalam dunia yang disebut desa global (global village). Yaitu sebuah dunia yang tidak lebih besar dari sebuah layar kaca.

Fenomenanya hari ini, tak jarang ketika seorang anak demam panas, para ibu cukup membuka google untuk mengetahui obat apa yang mesti diberikan tanpa harus mempertanyakan kepada orang lain terlebih dahulu. Canggihnya lagi, google tak hanya menyuguhkan sekedar bacaan, tetapi audio visual seperti film dan berbagai tutorial dapat ditemukan di mesin pencari ajaib itu, termasuk tutorial memasak dan berenang. Sangat terkesan lebih canggih dari sebuah buku, bukan?

Namun, bila kita renungi kembali, apakah kemajuan teknologi ini benar-benar telah memudahkan kita? Dari segi kualitas, apakah kita melesat jauh dibandingkan orang-orang terdahulu?

Sekarang hampir tidak ditemukan lagi aktivitas masyarakat yang disibukkan dengan buku. Semua tugas, baik pelajar maupun mahasiswa larinya ke warung kopi yang tersedia wifi gratisnya. Tidak perlu bersusah  payah lagi mencari literature bacaan pada pustaka dan toko buku yang sangat menyita waktu dan melelahkan. Cukup dengan memesan secangkir kopi, maka mesin ajaib google dapat digerakkan dengan menyuguhkan semuanya secara gratis.

Akibatnya pustaka sepi. Bila pun ada, kebanyakan mereka adalah para mahasiswa semester akhir yang tengah merampungkan skripsinya. Sangat disayangkan. Berbeda dengan orang-orang terdahulu. Ketika mendapat tugas, semua pustaka dijajal. Buku menjadi rujukan utama.  Pantang pulang sebelum dapat. Kalau buku yang dicari belum ditemukan, beralih ke segala sudut kota mencari toko buku. Yang terpenting pada saat itu, buku dapat, dan tugas selesai.  Sehingga tak jarang uang jajan disisihkan demi membeli buku yang dicari. Perjuangan memang berat di zaman itu.

Dengan buku, pada masa itu semua orang dipaksa untuk membaca. Tak ada istilah mengerjakan makalah dalam waktu sehari. Butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu tugas saja. Mau tidak mau. Jika ingin sebuah tugas selesai maka baca dulu bahan dari buku, baru kemudian ditulis dan disusun hingga menjadi sebuah makalah. Sehingga zaman itu sedikit sekali terdengar adanya plagiat. Kualitas para lulusan pun, sarjana sudah dipastikan jauh dari pengangguran.

Berbeda dengan apa yang terjadi hari ini. Tak jarang sebagian pelajar dan mahasiswa dengan seenaknya mencomot makalah yang tidak diketahui siapa penulisnya, siapa yang bisa mempertanggungjawabkan isinya dan seberapa besar keabsahannya. Plagiarisme dan copy-paste (copas) menjadi lumrah dan dianggap sah-sahnya saja. Hal ini kemudian menjadi keresahan kita bersama terhadap kehadiran dunia cyber di tengah masyarakat.

Sehingga tak heran bila berkembangnya teknologi, bukan mempermudah, tetapi malah menyulitkan dan mematikan kreatifitas bahkan kualitas manusia. Miris memang. Saat ini kita seperti salah kaprah dan belum bisa menempatkan diri sebagai konsumen yang cerdas terhadap perkembangan dunia cyber. Hal ini sebenarnya dapat disiasati dengan kesadaran pengguna internet untuk menempatkan diri sebagai pengguna yang cerdas.

Google dapat menjadi referensi yang baik bila digunakan dengan cerdas. Dalam google ada yang namanya Google Buku. Isinya ada ribuan buku yang dapat digunakan sebagai referensi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian ada pula Google Cendikia yang isinya memuat berbagai jurnal-jurnal terbaru yang cukup baik digunakan sebagai referensi dengan mudah dan gratis.

Atau jika ingin mengambil data yang akurat, gunakan rujukan dari situs-situs resmi pemerintahan yang berujung ‘go.id’ atau situs-situs resmi perguruan tinggi yang berujung ‘ac.id’ pada URL masing-masing situs tersebut.

Mirisnya, sudah semudah itu google menyediakan referensi, kita masih saja memilih jalan pintas dengan merujuk dan meng-copas  makalah orang lain yang biasanya dengan ujung URL wordpress.com atau blogspot.com. Sumber-sumber dari situs semacam ini sangat diragukan kesahihan dan kebenarannya. Belum lagi apakah sumber tersebut bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.

Dan parahnya lagi generasi hari ini, sudah copas bulat-bulat, kemudian tidak dibaca. Setelah di-copy kemudian susun ala kadarnya agar tidak berantakan sesuai format Microsoft Word, lalu print. Besok tampil seakan sudah mengerjakan sebuah makalah sebagai mana orang-orang pada umumnya.

Di era modern ini, kemudahan teknologi telah mengajak generasi muda cendrung memilih jalan pintas yang sangat tidak beretika, yaitu plagiarisme. Sehingga tak heran bila kualitas pendidikan hari ini tak lagi menjamin setiap individu untuk keluar dari permasalahan hidup. Karena memang kemudahan teknologi telah melahirkan generasi-generasi malas dengan wawasan yang terbatas.

Pada akhirnya, penulis mengajak kita semua agar senantiasa menjadi pemeran yang cerdas di era modern ini. Tidak salah ketika zaman menuntun kita dari kutu buku ke kutu google. Yang terpenting, mari jadikan kemudahan itu sebagai sarana untuk melesat jauh. Bukan malah menyulitkan atau sampai kepada tahap menumpulkan kualitas geutanyoe yang katanya generasi The Light of Aceh. Nah!

-Sara Masroni*-

Sara Masroni – Lulusan Terbaik Muharram Jurnalis College 2017

Disclaimer: Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com
Hak cipta gambar sebelum olah digital oleh : Nata-Ap dan Google dibawah lisensi CC0 Public Domain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *