Tuhan tidak akan mengubah nasib rakyat Aceh jika rakyat Aceh tidak mengubah diri mereka sendiri. Tanggal 15 Februari nanti, Tuhan memberikan kesempatan bagi rakyat Aceh untuk mengubah nasibnya. Kesempatan untuk keluar dari pemerintahan yang lamban, salah urus, dan korup. Kesempatan untuk memilih pemimpin yang lebih baik dari yang sekarang.

Saat ini, Aceh berada di titik nadir peradaban. Kemiskinan menggerogoti masyarakat bagai kanker ganas yang tak sembuh-sembuh. Pemuda-pemudi Aceh cemas akan masa depan mereka. Di provinsi yang dihujani dana otonomi khusus ini, cari kerja susahnya setengah mati. Kemelaratan hidup jualah yang membuat jumlah anak busung lapar bertambah di Aceh.

Lanjutkan Membaca "Nasib Aceh di Tangan Pilkada"

Perhatikan kalimat terakhir dari bunyi teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
“… Atas nama bangsa Indonesia, Sukarno-Hatta.”
Terkesan ada harmoni di sana. Namun, sungguh, di sanalah sebenarnya cerita tentang hiruk-pikuk, banting-tulang, jatuh-bangun tentang bangunan keindonesiaan ini bermula.

Melalui dua nama itu pulalah apa dan bagaimana Indonesia merdeka disusun dan dibangun. Tidak ada harmoni pada keduanya, sebagaimana yang tertera di teks proklamasi di atas, terutama pada ide dan gagasan. Sebab dari keduanya, terpancang perdebatan ide yang mengagumkan. Ada banyak perbedaan diantara keduanya. Namun tidak kurang juga, terdapat banyak titik temu.

Lanjutkan Membaca "Kepada Sukarno-Hatta"

Fenomena sosial media akhir-akhir ini semakin menegaskan bahwa sesuatu yang terjadi di satu belahan dunia, bisa menjadi viral dan membuat bagian dunia lain menjadi ikut-ikutan latah. Disatu sisi fenomena tersebut seolah menjadi hiburan bagi kebanyakan khalayak untuk seolah sejenak keluar dari himpitan problema kehidupan yang begitu serius dan hampir tidak terpecahkan. Fenomena viral di sosial media “Om Telolet Om“ juga seakan menjadi jalan keluar instan bagi anak bangsa dari segenap permasalahan, mulai dari air mata, makar, penistaan agama, 212, 412, pilkada, kemiskinan, komunisme, radikalisme, terorisme (baca: telolisme) dan lain sebagainya yang jauh lebih serius untuk dicarikan solusinya.

Lanjutkan Membaca "Om-Om, Telolis Om!"

“But man is not made for defeat,” he said. “A man can be destroyed but not defeated.”
― Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea

Fidel Castro, seorang pejuang revolusioner, penganut Marxist-leninist dari Kuba telah tiada. Ia meninggal di umur yang cukup tua sebagai manusia, 90 tahun. Setelah bertahun-tahun sebelumnya berjuang dengan penyakit yang dideritanya yang juga memaksa dia untuk undur diri dari tampuk kekuasaan 10 tahun yang lalu.

Kematiannya tentu saja menimbulkan kesedihan bagi banyak orang di seluruh dunia. Hampir seluruh pemimpin-pemimpin besar dunia mengucapkan bela sungkawa. Media-media besar pun ikut memberitakan kematiannya dan membicarakan tentang kisah perjalanan hidupnya. Meski demikian, tak sedikit pula yang berbahagia atas kepergiannya dan mengutuk sikap otoritariannya selama berkuasa di Kuba.

Lanjutkan Membaca "Fidel Castro: Pemberani Yang Membuktikan Kata-Katanya"

(Sebuah Tulisan Perkenalan)

Setiap bangsa seperti punya ceritanya sendiri yang tak bisa ditiru oleh bangsa lain. Mungkin karena itu tak ada bangsa yang memiliki sejarah yang sama. “Di mana lagi bisa ditemukan politik ala Perancis selain di Perancis?” tanya Clifford Geertz. Hanya di Perancislah ada cerita tentang penjara Bastille yang bobol, tulisan politik Voltaire yang satire, dan pisau Guillotine yang memotong leher raja Louis ke-16 beserta sang permaisuri Marie Antoniette. Sementara itu, hanya di Revolusi Amerika jualah bisa ditemukan cerita tentang The Boston Tea Party, dimana penduduk koloni yang menyamar sebagai suku Indian membuang muatan berisi teh dari kapal Inggris ke dasar laut. Hanya di Amerika jugalah pemikiran-pemikiran kenegaraan James Madison, John Jay, atau  Alexander Hamilton yang tertuang di The Federalist Paper bisa ditemukan. Tidak ada di Perancis dan tidak pula di Indonesia. Demikian pula, hanya di Indonesialah bisa kita temukan konsep Pancasila, tidak ada di tempat lain.

Lanjutkan Membaca "Di Mana Desain Semua Ini ?"

“There is no faith, without a critical mind” – Tariq Ramadan

Sejarah ditulis untuk mereka yang hidup, bukan untuk mereka yang mati. Sebagaimana madah (eulogy) disampaikan kepada yang menyaksikan kematian dan bukan kepada yang telah mati. Di sisi lain, kehidupan manusia selalu dinamis, maka begitu pun dengan sejarah. Sistem sosial, ekonomi dan politik pun akan terus menemukan bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktunya. Dengan demikian, maka sejarah terus ditulis dan dibaca ulang dengan perspektif dan pemahaman yang sesuai zaman dan tempatnya. Sehingga kekuatan sejarah dapat digunakan dengan maksimal, untuk memberi paham kehidupan dan legitimasi untuk masa sekarang dan masa depan.

Lanjutkan Membaca "Umat dan Logika Sejarah Islam"

Banyak yang meyakini bahwa literasi adalah kunci bangkitnya sebuah peradaban. Perintah agar mampu membaca dan menulis merupakan siklus awal dari puncak kebudayaan. Ia juga menjadi prasyarat mutlak dalam proses pendidikan dan pembentukan kepribadian. Itu sebabnya membaca dan menulis menjadi komponen elementer dalam pembentukan individu yang progresif, berkemajuan. Kumpulan individu berkepribadian yang terliterasi ini akan terkulminasi menjadi kelompok manusia yang mampu melahirkan kemajuan berarti bagi kemuliaan dan eksistensinya di dunia, dimanapun mereka berada. Generasi yang terliterasi inilah yang kemudian akan membawa pencerahan kepada komunitas disekelilingnya. Mereka…Lanjutkan Membaca “Gerakan Literasi Padi”