Department of English Language Education UIN Ar-Raniry Banda Aceh, EDSA, Lentera Intelektual Indonesia and Padebooks proudly presents the 3rd Online Seminar entitled : “The Youth Language and Identity in Social Media”. In using digital media, it is important to know how language is used and presents the youth identity in social media. Book the date now. * FREE* 🗓️ Date : Wednesday, 16 September 2020 ⌚Time : 09.00 AM – 12.30 PM 📌 Venue : Virtual Zoom Meeting Speakers : 1. Dr. Howard Manns (Monash…Lanjutkan Membaca “Online Seminar PBI UIN Ar-Raniry Series 3”

Wabah COVID-19 turut memberikan dampak terhadap dunia pendidikan, termasuk isu psikologi dalam kegiatan belajar menngajar. Menyikapi hal tersebut, Lingkaran Aceh bersama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Gajah Putih Takengon, Universitas Ibn Khaldun Bogor, Lentera Intelektual Indonesia, dan Padebooks menyelenggarakan Webinar Nasional 2.0 Lingka Kampus mengangkat tema “Psikologi dan Resiliensi Pembelajaran di Masa Pandemik.”, Selasa (18/8), 09.00 WIB via aplikasi Zoom. Webinar ini menghadirkan Dr. Izzatur Rusuli, dosen IAIN Gajah Putih Takengon, dan Nurul Milla, Ph.D, dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor sebagai narasumber. Acara akan dipandu…Lanjutkan Membaca “Webinar Psikologi dan Resiliensi Pembelajaran di Masa Pandemik”

Perhimpunan Alumni Jerman Aceh (PAJ Aceh) akan menyelenggarakan webinar “Doctoral Study and Research in Germany”, Rabu (5/8) melalui aplikasi rapat daring. Webinar yang akan berlangsung pada pukul 10:00 WIB – 12:00 WIB ini mengundang Rifki Furqan, M.Sc, penerima beasiswa DAAD Doctoral and Research Grant 2019 Jacob University Bremen Jerman sebagai pemateri. Ia menekuni bidang penelitian tentang pengelolaan laut dalam pengelolaan area konservasi laut Indonesia. Ia saat ini juga tercatat bekerja pada ZMT Bremen. Kegiatan ini turut menghadirkan Zuhra Sofyan, M.Sc., peneliti tamu pada Hasso Plattner…Lanjutkan Membaca “Doctoral Study and Research in Germany”

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) dan Himpunan mahasiswa Pendidikan Bahas Inggris (EDSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, bekerjasama dengan Lentera Intelektual Indonesia dan Padebooks akan mengadakan webinar bertema Text and Discourse, Selasa (14/07) via aplikasi rapat daring. Webinar ini menghadirkan Ms. Nazima Versay Kudus, dosen senior Universtiti Teknologi MARA Pulau Pinang dan Assoc Prof. Dr. Mohamad Rashidi Pakri dari English Language Studies Section, School of Humanities, Universiti Sains Malaysia. Selain itu, Dr.phil. Saiful Akmal, MA. dosen UIN Ar-Raniry akan bertindak sebagai pemandu acara….Lanjutkan Membaca “PBI UINAR Adakan Webinar Internasional”

Pemerintah saat ini tengah mengusung aturan kenormalan baru di sektor pendidikan. Salah satu opsinya adalah aturan membatasi kegiatan tatap muka pada lembaga pendidikan dengan mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Tantangan ada pada perguruan tinggi mengingat proses mencetak lulusan melibatkan proses belajar mengajar yang saat ini beralih via layanan teknologi, seperti aplikasi rapat daring. Untuk itu, Lingkaran Aceh Bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kali Djaga dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Hilal Sigli, bersama Padebooks menyelenggarakan Webinar Cluster Lingka Kampus dengan menggangkat tema…Lanjutkan Membaca “Masa Depan Pembelajaran Bahasa Arab di Kampus Pada Era New Normal”

Perhimpunan Alumni Jerman Aceh (PAJ Aceh) akan menyelenggarakan Webinar “Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19”, Sabtu (11/7) via aplikasi rapat daring. Webinar yang akan berlangsung pada pukul 14.00 – 16.00 WIB ini mengundang Dr.rer.med. Ns. Marthoenis, dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala serta Razan Madyasta Wibowo, B.Sc dari Pettenkofer School of Public Health Munich – Public Health in Munich sebagai pemateri. Ns. Farah Diba, MScPH, alumnus Charité – Universitätsmedizin Berlin, yang juga menjabat dosen aktif pada Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala hadir sebagai moderator pada…Lanjutkan Membaca “Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemic Covid-19”

Pengaruh Para Sufi dalam Beberapa Fase Islamisasi Nusantara

Untuk mengukuhkan Islam pada jiwa masyarakat Nusantara dalam pandangan al-Attas membutuhkan proses panjang hingga beberapa abad. Proses tersebut sebut adalah Islamisasi, maksudnya adalah proses pengenalan, pemahaman, serta pengukuhan terhadap makna Islam yang sebanarnya sehingga melekat pada diri manusia. Islamisasi di sini merupakan perjuangan kaum sufi serta para muballig Islam dalam menyebarkan dan sekaligus memberi pemahaman kepada masyarakat Nusantara yang masih terpengaruhi oleh mitologi, alam seni, dan metafisika kabur. Para sufi, mendoktrin Islam dengan memperhatikan tingkat kemampuan masyarakat Nusantara. Islamisasi dalam gambaran al-Attas tersebut merupakan bentuk nyata, dan sampai saat ini masih dirasakan keberlanjutannya. Dengan metode sufistik tersebut, Islam bukan hanya sekdar doktrin melainkan telah menjadi bagian amalan utama bagi masyarakat Nusantara sekaligus meruntuhkan pengetahuan lama yang terpengaruh dengan mitologi sesat ke alam baru yang lebih rasional dan saintifik.

Lanjutkan Membaca "Islam Nusantara Dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Bagian 2 dari 2)"

Perdebatan mengenai proses pembumian Islam di Nusantara selalu hangat diperdebatkan di kalangan intelektual hingga sampai saat ini. Beberapa tulisan beberapa waktu lalu sempat memperdebatkan mengenai Islamisasi serta Islam apakah yang sebenarnya yang ada di Nusantara. Meskipun bukanlah hal yang baru, namun perdebatan ini selalu hangat diperbincangkan hingga terus-menerus memunculkan berbagai argumentasi ilmiah. Satu pendapat menyebutkannya bahwa Islam Nusantara adalah Islam permukaan, yaitu Islam yang dipahami dan diartikan hanya sebatas kulit luar dari ajarannya, berupa syiar, dan hiruk-pikuk seremonial yang disandingkan dengan aktivitas ibadah formal Islam. Hal ini dijadikan suatu tolak ukur kecemerlangan, kejayaan, dan heroisme Islam dalam masyarakat penganutnya1)Muhibuddin Hanafiah, “Islam Permukaan”, Serambi Indonesia, 13 Juli 2015, hlm. 18.. Pendapat lain mengenai Islam di Nusantara adalah Islam Fansurian yaitu sebuah proses pengislaman yang dibungkus dengan sufisme dan membangun tamadun masyarakat dengan konstitusi akhlak sosial (bio-etik) dan akhlak personal (revolusi mental)2)Affan Ramli, “Islam Nusantara Fansurian”, Serambi Indonesia, 31 Juli 2015, hlm. 18..

Referensi   [ + ]

1. Muhibuddin Hanafiah, “Islam Permukaan”, Serambi Indonesia, 13 Juli 2015, hlm. 18.
2. Affan Ramli, “Islam Nusantara Fansurian”, Serambi Indonesia, 31 Juli 2015, hlm. 18.
Lanjutkan Membaca "Islam Nusantara Dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Bagian 1 dari 2)*"

Publik Aceh telah mengenal lama Darussalam sebagai pusat pendidikan. Kehadiran Unsyiah dan UIN Ar-Raniry telah membuat kawasan Darussalam menjadi poros utama dalam pengembangan pengetahuan di Aceh. Sulit membayangkan Aceh memiliki poros lain dalam soal pengembangan pengetahuan.

Darussalam memang dirancang sejak awal sebagai pusat pendidikan. Kondisi ini sangat berbeda dengan Meurandeh yang tidak dibuat atas desain tersebut. Alih-alih sebagai pusat pendidikan, Meurandeh pada awalnya hanya terdiri dari semak-semak dan pohon sawit. Namun kini, Meurandeh mulai berjuang menjadi produsen pengetahuan selayaknya Darussalam. Keberadaan IAIN Langsa dan Unsam Langsa di Meurandeh perlahan mulai memperlihatkan terbukanya poros baru pengembangan pengetahuan di Aceh.

Lanjutkan Membaca "Friday Forum IAIN Langsa dan Kembalinya Perbincangan Intelektual di Aceh"

Pendahuluan

Mencermati perkembangan yang terjadi di Islam Indonesia sepanjang tahun 2016, terutama beberapa peristiwa yang terkait dengan persoalan soisal-politik-keagamaan, penulis menjadi kembali ingin membaca tulisan Martin Van Bruinessen yang memunculkan istilah conservative turn in Indonesia. Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan oleh Martin melalui istilah itu. Apakah ia ingin mengatakan bahwa pemahaman keagamaan Muslim Indonesia sebelumnya adalah konservatif, lalu berevolusi dan keluar dari konservatisme itu dan kini konservatisme itu terulang kembali? Istilah conservative turn yang pertama sekali digunakan oleh Martin tahun 2013 dalam asumsi penulis menjadi suatu prediksi akademik yang terbukti kebenarannya hari ini, meski dalam pemahaman penulis conservative turn yang dimaksudkan Martin adalah adanya sejumlah gejala bahwa pemahaman Muslim terhadap agamanya semakin menguat, kalau tidak ingin dikatakan mengarah kepada kekerasan berjamaah (communal violence) dengan mengatasnamakan agama mengutip istilah Duncan. Kasus-kasus di mana pemahaman keagamaan Muslim, terutama konservatisme mereka membaca teks-teks suci terbuka untuk ditunggangi oleh aktivitas politik. Tulisan ini dibagi atas dua pembahasan. Pertama, tentang hasil penelitian lembaga riset dan sejumlah pakar tentang Islam Indonesia dengan perdebatan seputar kecenderungan ke arah konservatisme, sebagai the outsider’s perspective. Kedua, mengenai konservatisme Islam sebagai tunggangan politik: pengalaman Tunisia.

Lanjutkan Membaca "“The Smiling Face” Islam Indonesia: Membaca Tunisia*"