Parenting di Era Teknologi Digital

Kategori Penulis Tamu

Oleh : Fatimah Zuhra & M. Amirulhaq

Peran orangtua dalam pengasuhan anak idealnya dilakukan bersama karena keduanya memiliki peran yang berbeda (Olson, DeFrain, & Skogrand, 2011). Ibu cenderung lebih terlibat dalam kebutuhan day care, mengenalkan anak pada kemampuan berbahasa dan kemandirian. Selain itu, ibu juga membantu anak memperkenalkan pada identitas diri anak. Ayah memiliki peran dalam pengasuhan yang lebih bersifat umum seperti disiplin, tata cara bersosialisasi, dan pendidikan akan norma, karena ayah dapat lebih bersifat objektif (Plomin, dalam Triani & Dewi, 2011). Positive parenting merupakan dasar-dasar dalam pengasuhan anak yang berkembang dalam Psikologi Positif. Tujuan utama dari positive parenting adalah bagaimana membantu orangtua untuk dapat menjadikan anak-anak mereka berdaya, nyaman dan kuat dengan rasa sejahtera (wellness) yang tinggi, dan mampu meraih kepuasaan hidup, sehingga dapat mencapai kebahagiaan tanpa mengenal usia (Hyoscyamina & Dewi, 2012).

Pengasuhan dalam positive parenting memiliki beberapa prinsip kunci, yaitu:

  1. Pemenuhan nutrisi anak, nutrisi dapat berpengaruh besar pada perkembangan, konsentrasi, dan kemampuan mental lainnya.
  2. Kehidupan yang seimbang, dimana anak memiliki kesempatan bermain, belajar, mengeksplorasi lingkungannya dan memiliki waktu yang berkualitas bersama kedua orangtuanya, mengajarkan kehidupan yang seimbang, dapat membantu anak memiliki regulasi diri yang baik, dan membantu memelihara kedisiplinan dalam kehidupannya.
  3. Mengembangkan rasa aman dan keamanan dalam keseharian, dilakukan untuk melindungi anak dari dampak lingkungan yang negatif, situasi yang belum waktunya dipahami, dan menciptakan lingkungan yang positif dan aman.
  4. Memelihara komunikasi yang terbuka kepada anak, teman-temannya, pihak sekolahnya, dan lingkungan sekitar anak.
  5. Menjadi orangtua yang aktif, sehingga anak-anak merasa didengarkan, memiliki ikatan yang kuat, dan memahami potensi keterbatasannya.

Kesemuanya haruslah diawali dari sikap dan karakter orangtua yang positif baik terhadap kehidupan, dunia, dan keluarga (Hyoscyamina & Dewi, 2012).

JENIS POLA ASUH

Pola Asuh Otoritarian

Jenis pola asuh dimana orang tua memberikan peraturan-peraturan yang harus dipenuhi tanpa adanya negosiasi dengan anak. Orang tua yang melakukan pola asuh otoritarian juga tidak akan segan memberikan hukuman yang keras sebagai cara mendisiplinkan anak (Riandini, 2015). Pola asuh otoritarian adalah pola asuh yang menekankan kepatuhan pada kontrol (Papalia, Olds, & Feldman, 2009). Anak dengan pola asuh otoritarian akan membentuk sikap hormat dan taat pada orangtua, namun sisi negatif dari pola asuh otoritarian ini adalah anak akan membangun perasaan takut, cemas, tidak bahagia, inisiatif tidak terbentuk dan juga kurang dapat membangun komunikasi dengan baik (Riandini, 2015).

Pola Asuh Permisif

Pola asuh permisif merupakan jenis pola asuh dimana orang tua memberikan segala sesuatu yang diminta oleh anak. Orang tua juga kurang memberikan batasan dan kendali yang jelas pada anak (Riandini, 2015). Ormrod (2008) menyebutkan pola asuh permisif adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula peduli terhadap kehidupan anaknya. Di lain sisi, pola asuh permisif diartikan sebagai pola asuh yang menekankan ekspresi diri dan pengaturan diri sendiri. (Papalia, 2009) Anak dengan pola asuh permisif akan lebih kreatif dan percaya diri, namun di samping itu anak dengan pola asuh ini cenderung kurang memiliki kontrol diri yang baik, mendominasi, kurang dapat menghormati dan tidak dapat menjalin hubungan yang baik dengan temannya (Riandini, 2015).

Pola Asuh Otoritatif

Pola asuh otoritatif memberikan batasan dan juga kontrol terhadap anak, namun masih memberikan kesempatan bagi anak untuk dapat mandiri dan juga memiliki tanggungjawab pribadi (Riandini, 2015). Ormrod (2008) mengatakan pola asuh otoritatif (authoritative parenting) di mana orangtua yang menghadirkan lingkungan rumah yang penuh kasih dan dukungan, menerapkan ekspektasi dan standar yang tinggi dalam berperilaku, memberikan penjelasan mengapa suatu perilaku dapat atau tidak dapat diterima, menegakkan aturan-aturan keluarga secara konsisten, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dan menyediakan kesempatan-kesempatan anak menikmati kebebasan berperilaku sesuai usianya. Pola asuh orang tua yang otoritatif  juga diartikan sebagai pola asuh yang menggabungkan penghargaan terhadap individualitas anak dengan usaha untuk menanamkan nilai sosial (Papalia, 2009). Anak dengan pola asuh otoritatif lebih percaya diri, memiliki pengendalian diri yang baik, mampu mengelola stres dan dapat bekerja sama dengan teman sebaya maupun orang-orang yang lebih tua (Riandini, 2015).

 

POLA ASUH DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI

Saat ini, manusia telah hidup di era digital, mengalami perkembangan teknologi yang luar biasa. Manusia tidak bisa hidup tanpa teknologi. Teknologi adalah segala-galanya bagi manusia, sehingga segala sesuatu harus disesuaikan dengan kecanggihan era teknologi masa kini seperti halnya pola asuh. Jika dulu pola asuh anak masih mengandalkan teori pola asuh paling popular yang dikembangkan oleh Diana Baumrind seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kini para pengasuh atau orangtua perlu ‘merevisi’ lagi cara mengasuh anak seiring dengan zamannya. Menurut Hurlock (dalam Aslan, 2019), untuk mengantisipasi anak-anak di zaman era digital sekarang, yang paling berkesan adalah pola asuh. Sistem pola asuh menampilkan teladan yang baik oleh orangtua kepada anaknya (Tridonanto, 2014). Selain itu juga, orangtua yang hidup di zaman era digital ini tidak hanya menguasai teknologi di zaman sekarang, tetapi juga mempunyai pengetahuan-pengetahuan terhadap perkembangan anaknya (Gunarsa & Gunarsa, 2008).

Sebelum mempelajari pola asuhan yang efektif dalam mengasuh serta membesarkan anak-anak era digital ini, perlu kita ketahui terlebih dahulu karakteristik dari sang anak. Pada umumnya, setiap populasi generasi yang muncul dalam kurun waktu setiap 15-18 tahun terakhir memiliki karakteristik demografik yang berbeda dengan generasi sebelum dan setelahnya. Pengelompokan karakteristik tiap generasi ini disebut sebagai cohort (Santosa, 2015). Artinya, pembagian suatu generasi berdasarkan periodisasi waktu tertentu dan perbedaan karakteristik kelompok tersebut. Perbedaan karakteristik setiap generasi meliputi perbedaan kepercayaan, keyakinan, karir, keseimbangan kerja, keluarga, peran gender, dan lingkungan pekerjaan. Misalnya, generasi yang lahir pada tahun 1946-1964 disebut dengan baby boomers. Sedangkan generasi yang lahir pada tahun 1965-1979 disebut generasi X (slacker atau Xers). Generasi Y adalah generasi yang lahir tahun 1980-2000. Generasi ini sering juga disebut generasi digital atau millenial. Generasi ini lahir saat internet mulai masuk dan berkembang (generasi NET). Sedangkan generasi yang lahir setelah era milenial ini disebut dengan generasi Z (Rahmat, 2018).

Karekteristik setiap generasi berbeda-beda karena ditentukan oleh perubahan dan kondisi demografik saat itu. Berbeda dengan generasi X, generasi Net atau Milenial sangat bergantung pada teknologi terutama internet. Menurut Santosa (2015), generasi Net ini memiliki karakteristik sebagai berikut; Pertama, memiliki ambisi besar untuk sukses. Anak zaman sekarang cenderung memiliki karakter yang positif dan optimis dalam menggapai mimpi dalam hidupnya. Kedua, anak cenderung berpikir praktis dan berperilaku instan (speed). Anak-anak generasi ini menyukai pemecahan masalah yang praktis dan kurang sabar mengikuti proses untuk mencermati suatu masalah. Ketiga, anak mencintai kebebasan. Generasi Net sangat menyukai kebebasan berpendapat, berkreasi, berekspresi. Keempat, percaya diri. Anak-anak yang lahir pada generasi ini mayoritas memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki sikap optimis dalam banyak hal. Kelima, anak cenderung menyukai hal yang detail. Generasi ini termasuk generasi yang kritis dalam berpikir.

Berdasarkan karakteristik generasi digital yang dijelas ini, maka orang tua perlu mendidik anak di era digital dengan menggunakan tipe-tipe pola asuh yang relevan atau sesuai dengan kehidupan anak. Orangtua dapat menerapkan pola asuh yang efektif jika orang tua mengetahui apa yang harus di buat untuk mendidik anak di era digital. Orangtua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang bisa ditawarkannya (Rahmat, 2018).

Singkronisasi ketiga model pola asuh otoritarian, demokratif serta otoritatif dapat diterapkan pada anak-anak era digital sesuai dengan situasi dan kondisi perilaku anak, yang tentunya dinilai sesuai mengikut tahapan umur anak. Urgensi mendidik anak di era digital, selaku orangtua, wajib mengetahui perkembangan anak. Pola asuh otoriter diberlakukan kepada anak sesuai dengan situasi dan kondisi yang diperlukan. Orangtua berhak untuk memberikan kebebasan sebagaimana pola asuh permisif tetapi dalam hal positif, sehingga ketiga pola asuh ini, baik otoriter, permisif dan otoritatif masing-masing bekerjasama terhadap dampak yang dihasilkan oleh teknologi.

*Penulis adalah mahasiswa Uin Ar-Raniry Banda Aceh Fakultas Psikologi*

 

DAFTAR PUSTAKA

Aslan. (2019). Peran pola asuh orangtua di era digital. Jurnal Studia Insania, 7(1), 20-34. doi: 10.18592/jsi.v7i1.2269

Gunarsa, S. D., & Gunarsa. Y.T., (2008). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja (Cetakan Ke 13). Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hyoscyamina, D. E., & Dewi, K. S. (2012). Pengembangan program parenting bagi anak usia dini dengan pendekatan psikologi positif dan karakter islami. Jurnal Psikologi, 18(1), 30-46.

Ormrod, J. E. (2008). Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta:  PT. Erlangga.

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.

Rahmat, S. (2018). Pola asuh yang efektif untuk mendidik anak di era digital. Jurnal

Pendidikan dan Kebudayaan Missio, 10(2), 137-273.

 

Riandini, S. (2015). Pengaruh pola pengasuhan dengan perkembangan komunikasi anak autis kepada orang tua. Majority, 4(8), 99-105.

Santosa, E. T. (2015). Raising Children In Digital Era. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Triani, C. I., & Dewi, K. S. (2011). The Differences of Father-Adolescent Closeness Based on Father Support among Undergraduate Students in Central Java: Indigenous Psychology Analysis. Proceeding The Second International Conference of Indigenous and Cultural Psychology: Factors Promoting Happiness, Health, and Quality of Life. Denpasar: Udayana University.

Tridonanto, A. (2014). Mengembangkan Pola Asuh Demokratis. Jakarta: Elex Media Komputindo

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.