Fabrikasi Atau Induksi Penyakit Pada Anak

Kategori Penulis Tamu

Tentang Gangguan Buatan (Factitious Disorders)

Gangguan buatan adalah suatu gangguan jiwa dimana pasien secara sengaja membuat tanda gangguan medisfisik atau psikologis dengan menunjukkan riwayat serta gejala palsu yang dimotivasi oleh faktor internal yang tujuannya semata-mata untuk mengambil peran sebagai pasien tanpa adanya dorongan dari luar, meski pun kadang mereka tidak sepenuhnya memahami motivasi mereka. (Shierly, 2014).

Pemahaman yang lebih dalam mengenai gangguan ini menunjukkan bahwa pasien lebih terdorong untuk tampil sakit dan kerap kali telah memiliki wawasan dari perilaku yang ditampilkan.

Sub tipe dari gangguan buatan adalah sindrom Munchausen atau Munchausen’s Syndrome. Menurut sejarah psikiatri, gangguan ini diperkenalkan pertama kali sebagai Sindrom Munchausen pada tahun 1951 oleh Rihard Asher, seorang klinisi yang menemukan kasus seorang pensiun perwira kavileri Jerman, yaitu Baron Karl Von Muncausen, yang secara dramatis menceritakan pengalamannya berpergian dari rumah sakit ke rumah sakit di berbagai kota untuk mendapatkan perawatan medis. (Jaghab, 2006). Sindrom ini tidak hanya dialami oleh individu dewasa tetapi juga berdampak negatif pada anak kecil yang memiliki pengasuh penderita sindromini.

Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP) yang juga dikenal sebagai Factitious Disorder Imposed on Another adalah sebuah gangguan psikologis yang termasuk dalam kategori gangguan buatan kronis. MSbP ditandai oleh perilakuseorang pengasuh memanipulasi gejala penyakit yang diderita oleh sang anak asuh untuk mendapatkan rasa prihatin dan simpati dari orang lain. Menurut dr Jaghab (2006), pemalsuan penyakit atau gangguan buatan ini pada orang dewasa mungkin terkesan menjengkel kan, namun apabila perlakuan ini dimanipulasikan pada anak, maka akan lebih menimbulkan frustrasi karena pengasuhatau orang tua mereka bahkan rela melihat anaknya yang pada dasarnya sehat harus menjalani tes dan operasi yang menyakitkan atau berisiko untuk mendapatkan perhatian khusus dari orang lain. Robertson (dalam Lehmkuhl, 2008) menyatakan bahwa pasien atau pelaku dengan sindrom ini membuat gambaran penyakit yang kompleks, biasanya dengan riwayat yang panjang, dan mengunjungi banyak dokter dan rumah sakit, menjalani beberapa prosedur berbahaya, tetapi sering kali pergi dengan tiba-tiba dan dengan marah.

Ciri-ciri Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP)

https://parenting.firstcry.com/articles/mental-disorders-in-children/

Libow (2000) menyebutkan bahwa gangguan buatan kronis (Munchausen’s Syndrome by Proxy) cenderung terjadi pada wanita berusia 20 hingga 40 tahun yang bekerja di bidang medis, seperti sebagai perawat atau klinisi. Mereka cenderung tidak menikah meski telah berusia setengah baya dan tinggal berasingan dari keluarga mereka. Pelaku Munchausen’s Syndrome by Proxy(MSbP) biasanya terjadi pada ibu yang menyebabkan penyakit pada anak-anakmereka. Namun, terkadang ayah atau orang lain juga bertanggungjawab atas terjadinya kesan destruktif sindrom gangguan buatan ini pada anak-anak.

Para peneliti telah menggaris bawahi beberapa kepribadian sifat patologis atau gangguan identitas yang muncul pada pelaku Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), yaitu hubungan interpersonal yang tidak stabil, ide bunuh diri berulang atau self-mutilating. Perilaku serupa juga ditemui digangguan kepribadian border line. Selain itu, individu dengan sindrom ini dikatakan penuh dengan muslihat dan tipu daya serta tidak mempunyai rasa penyesalan. Mereka biasanya gagal untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial. (Ritson& Forest, 1970).

Terdapat juga studi yang mencatat bahwa pelaku Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), memiliki ciri adanya pseudologia fantastica, yaitu mengatakan kebohongan besar mengenai riwayat pendidikannya, riwayat masa lalu, riwayat sosial, riwayat sakitnya dan sebagainya. (Feldman, 2007).

Studi Kasus Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP)

Kasus yang paling gempar terjadi akibat gangguan jiwa ini telah menghebohkan seluruh kota Missouri, Amerika pada tahun 2015 silam dimana seorang remaja perempuan dibawah umur bernama Gypsy Rose Blanchard, dan pacarnya telah bekerjasama membunuh ibu si gadis (Dee Dee) dirumahnya pada malam hari. Pada 15 Juni 2015, Dee Dee Blanchard ditemukan terbunuh di rumahnya di Springfield, Missouri, dan putrinya yang terikat kursi roda, Gypsy Rose Blanchard, dilaporkan hilang. Setelah Gypsy dilacak ke Wisconsin dan terlibat dalam pembunuhan itu, apa yang dimulai sebagai kisah mengerikan tentang pembunuhan seorang ibu berubah menjadi kisah aneh tentang penipuan dan pelecehan anak. (Widianingtyas, 2018)

Pembunuhan tragis ini adalah akibat fatal dari gangguan jiwa sang ibu yang menderita Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), dimana Dee Dee menuturkan Gypsy mengidap beragam penyakit. Mulai dari cacat kromosom, distrofiotot, epilepsi, asmaberat, apnea tidur, leukimia, kerusakan otak, hingga penyakit mata. Dee Dee mengaku semua itu sudah diderita Gypsy sedari kecil. Gypsy dipaksa menjalani beberapa prosedur operasi pada tubuhnya (yang tidak seharusnya ia jalani) dan ia juga dipaksa mengkonsumsi makanan dalam bentuk cairan melalui silang yang dipasang pada bagian perutnya dikarenakan kuman pada giginya yang membuat gigi nya mudah rusak. Gypsy ‘hidup’ diatas kursi roda selama hampir 19 tahun sejak ibunya memalsukan kelumpuhannya terhadap dirinya dan publik.

Gypsy pada akhirnya sadar bahwa ia tidak pernah sakit dan ibunya telah memanipulasi fakta tentang penyakit kronis yang konon ia derita, sehingga berhasil meyakinkan dunia bahwa dia seolah-olah sedang sakit. Semuanya dilakukan demi mengaut keuntungan yang banyak dari dinas sosial dan masyarakat yang prihatin akan nasib dirinya. Selama “sakit”, Dee Dee dan Gypsy memang mendapatkan banyak fasilitas secara cuma-cuma. Mulai dari tiket pesawat gratis, menginap di villa bagi pasien kanker, sampai berlibur ke Disney World. (Widianingtyas, 2018)

Menurut Lewis (2017), kasus Dee Dee adalah kasus klasik yang menyangkut penyakit Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), atau lebih dikenal sebagai sebagai gangguan buatan yang dipaksakan pada orang lain factitious disorder imposed on another. Istilah ini mengacu pada penyakit mental yang ditemukan pada pengasuh yang berbohong tentang, menghasilkan, atau melebih-lebihkan gejala penyakit atau kecacatan pada orang lain. Meskipun sangat jarang, itu paling sering terjadi antara seorang ibu dan anaknya.

Untungnya, Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP), ini dapat dikategorikan sebagai gangguan langka yang jarang terjadi. Menurut Klinik Cleveland, hanya 1.000 dari 2,5 juta kasus pelecehan anak di Amerika Serikat yang dilaporkan setiap tahun berasal dari Munchausen’s Syndrome by Proxy (MSbP). Namun sayangnya, karena orang-orang seperti Dee Dee yang menyalah gunakan tanggungan mereka dengan caraini, sehingga sering tampak mencintai dan menyayangi anak jagaan mereka, dokter masih mengalami kesulitan men-diagnosis sindrom tersebut, bahkan ketika ia nya terjadi tepat di depan mereka.

Daftar Pustaka/Referensi :

Feldman MD, & McDermontt, B.M, (2007). Malingering in the medical setting. Psychatric Clinics, 30 (7), 645-662.

Jaghab, K., Kenneth B., Skodnek, Md., & Padder, A. T. (2008, March 13). Munchausen’s syndrome and other factitious disorders in children—case series and literature review. Psychiatry, 46-55.

Libow JA. Child and adolescent illness falsification. Pediatrics, 2(105), 336–422

Lehmkuhl, U., Ehrlich, S. M.D., Pfeiffer, E. M.D., Harriet, S. Ph.D., Lenz, S., & Math. Factitious disorder in children and adolescents: a retrospective study. Psychosomatics,49(5), 393-398. Diakses dari http://psy.psychiatryonline.org.

Lewis, E. (2017, August 08). Care Gone Wrong: Bad Moms, Fake Disabilities ,and Imagined Illnesses. Nursing Clio. Diakses dari    https://nursingclio.org/topics.

Ritson B, Forrest A. The simulation of psychosis: A contemporary presentation. Br J Med Psychol 70(43), 31–7.

Shirly, M. R. (2014) GangguanBuatan (Factitious Disorder). (Skripsi Dipublikasikan). Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Widianingtyas, H. (2018, Juli 26) Kisah Ibu yang Ingin Anaknya Sakit, dan Anak yang Ingin Ibunya Mati. Kumparan NEWS. Diakses dari https://kumparan.com/kumparannews

Penulis : Fatimah Zuhra Mahasiswa Jurusan Psikologi Uin Ar-Raniry Banda Aceh

Disclaimer: Opini/Pendapat dalam tulisan ini adalah milik penulis pribadi dan tidak mesti mewakili pendapat atau pandangan padébooks.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.