Masyarakat Aceh adalah masyarakat agraria. Alasannya, mayoritas rakyat Aceh adalah petani. Sektor pertanian menyerap 44.09 persen tenaga kerja di Aceh (BPS 2015). Tulang punggung ekonomi rakyat adalah pertanian. Konsekuensinya, kesejahteraan petani berarti kesejahteraan Aceh. Petani miskin artinya Aceh miskin. Pertanyaannya kemudian: kenapa petani di Aceh terus-terusan miskin?

Lanjutkan Membaca "Petani Aceh dan Kesadaran Kelas"

Tak ada yang membantah bahwa Aceh berhak memiliki bendera sendiri berdasarkan di Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan MoU Helsinki. Tak ada pula yang berhak melarang jika ada anggota dewan lebih memilih menghabiskan waktu dan tenaganya untuk isu bendera ketimbang isu yang lain. Tapi, berasumsi bahwa jika memiliki bendera sendiri maka harkat dan martabat rakyat Aceh akan naik, maka itu adalah sebuah kesesatan berpikir yang nyata.

Lanjutkan Membaca "Bendera dan Wibawa Bangsa"

Tuhan tidak akan mengubah nasib rakyat Aceh jika rakyat Aceh tidak mengubah diri mereka sendiri. Tanggal 15 Februari nanti, Tuhan memberikan kesempatan bagi rakyat Aceh untuk mengubah nasibnya. Kesempatan untuk keluar dari pemerintahan yang lamban, salah urus, dan korup. Kesempatan untuk memilih pemimpin yang lebih baik dari yang sekarang.

Saat ini, Aceh berada di titik nadir peradaban. Kemiskinan menggerogoti masyarakat bagai kanker ganas yang tak sembuh-sembuh. Pemuda-pemudi Aceh cemas akan masa depan mereka. Di provinsi yang dihujani dana otonomi khusus ini, cari kerja susahnya setengah mati. Kemelaratan hidup jualah yang membuat jumlah anak busung lapar bertambah di Aceh.

Lanjutkan Membaca "Nasib Aceh di Tangan Pilkada"

(Sebuah Tulisan Perkenalan)

Setiap bangsa seperti punya ceritanya sendiri yang tak bisa ditiru oleh bangsa lain. Mungkin karena itu tak ada bangsa yang memiliki sejarah yang sama. “Di mana lagi bisa ditemukan politik ala Perancis selain di Perancis?” tanya Clifford Geertz. Hanya di Perancislah ada cerita tentang penjara Bastille yang bobol, tulisan politik Voltaire yang satire, dan pisau Guillotine yang memotong leher raja Louis ke-16 beserta sang permaisuri Marie Antoniette. Sementara itu, hanya di Revolusi Amerika jualah bisa ditemukan cerita tentang The Boston Tea Party, dimana penduduk koloni yang menyamar sebagai suku Indian membuang muatan berisi teh dari kapal Inggris ke dasar laut. Hanya di Amerika jugalah pemikiran-pemikiran kenegaraan James Madison, John Jay, atau  Alexander Hamilton yang tertuang di The Federalist Paper bisa ditemukan. Tidak ada di Perancis dan tidak pula di Indonesia. Demikian pula, hanya di Indonesialah bisa kita temukan konsep Pancasila, tidak ada di tempat lain.

Lanjutkan Membaca "Di Mana Desain Semua Ini ?"